Breaking News:

Pranowo Keluhkan Omzet Pedagang Pasar Rejomulyo Menurun

Tarik-menarik relokasi pedagang ikan Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong memunculkan masalah baru.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: iswidodo
tribunjateng/m zainal arifin
DISKUSI - Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto, berdialog dengan pedagang ikan di Pasar Rejomulyo, Kota Semarang, untuk menyerap aspirasi pedagang soal relokasi, Sabtu (5/5) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tarik-menarik relokasi pedagang ikan Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong memunculkan masalah baru. Para pedagang mengeluhkan penurunan omzet yang disebabkan menurunnya transaksi pedagang dari luar kota.

Hal itu dikatakan seorang pedagang ikan di Pasar Rejomulyo, Pranowo, saat menerima kunjungan Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto, di Pasar Rejomulyo, Kota Semarang, Sabtu (5/5/2018) malam.

Pranowo menuturkan, banyak pedagang dari luar kota di antaranya Solo, Magelang dan Yogyakarta yang tidak lagi membeli ikan dari Pasar Rejomulyo karena takut tak ada stok barang dan merugi di ongkos perjalanan.

“Karena ontran-ontran relokasi, mereka dengar kalau stok barang turun. Makanya ada yang tak datang. Sementara pasokan juga tak seperti biasanya," kata Pranowo, yang enggan menyebutkan angka penurunan omzetnya.

Pranowo mengatakan, penurunan omzet ini sempat dikhawatirkan para pedagang jika menempati pasar baru. Akan tetapi, ia tidak memprediksi jika konflik relokasi juga berdampak sama.

Ia menjelaskan, prediksi penurunan omzet jika menempati pasar baru karena kondisi pasar yang dinilai tidak layak dan sarana prasarana yang kurang memadai. Terlebih, pedagang ikan basah dan ikan asin kering dijadikan satu lokasi.

"Alasan utamanya adalah ketiadan lahan parkir untuk proses bongkar muat ikan. Sementara dalam satu malam saja, setidaknya ada 250 truk yang melakukan bongkar muat ikan yang membutuhkan proses cepat," paparnya.

Karena faktor tersebut, ketersediaan lahan parkir dan area bongkar muat dianggap sangat penting. Ia mencontohkan, lokasi pedagang ikan asin di Pasar Rejomulyo baru ditempatkan di lantai dua. Padahal, pengiriman ikan asin menggunakan kontainer karena jumahnya banyak.

"Di lokasi baru, pedagang ikan dan ikan asin dijadikan satu lokasi, ini salah. Pedagang ikan asin itu muatnya pakai kontainer. Lha kalau harus naik turun lantai dua itu kan nambah biaya lagi," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved