Pyongyang Sebut Pernyataan AS Memperkeruh Kedekatan Dua Korea

Komentar AS tersebut muncul setelah berlangsungnya konferensi bersejarah antara kedua pemimpin Korea di zona demiliterisasi

EPA/BBC Indonesia
Kim Jong-un dan Donald Trump 

TRIBUNJATENG.COM, PYONGYANG - Korea Utara memperingatkan pada Washington yang mengklaim Pyongyang terpaksa melakukan pembicaraan damai karena tekanan sanksi oleh AS dan PBB. Pyongyang menyebut pernyataan AS tersebut berisiko mengembalikan proses pembicaraan terkait Semenanjung Korea kembali ke titik awal.

Komentar AS tersebut muncul setelah berlangsungnya konferensi bersejarah antara kedua pemimpin Korea di zona demiliterisasi yang memisahkan dua negara pada 27 April lalu.

Pertemuan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Korsel Moon Jae-in itu berjalan sukses dengan kedua pemimpin sepakat mencari jalan damai untuk mengakhiri perang.

Presiden AS Donald Trump kemudian menyebut kampanye tekanan maksimum dan sanksi internasional yang dilakukannya terhadap Korut telah membawa pada terjadinya pembicaraan damai.

Area Pyeonghwa Nuri di area Demilitarized Zone, Korea.
Area Pyeonghwa Nuri di area Demilitarized Zone, Korea. (Dok. Geonggi Goverment)

Atas komentar tersebut, Korea Utara menuduh AS dengan sengaja ingin memprovokasi Pyongyang dan bermaksud merusak suasana dialog yang telah terbangun saat ini.

"Menyebut langkah yang dilakukan Pyongyang belakangan ini sebagai tanda kelemahan tidak akan berdampak kondusif pada pembicaraan dan justru dapat membawa situasi kembali ke titik awal," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut, Minggu (6/5).

Meski demikian, juru bicara itu tidak secara langsung merujuk pembicaraan pada rencana pertemuan antara Trump dengan Kim yang akan digelar.

Sebelumnya pada pekan lalu, Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton menyebut tekanan sanksi maksimum yang dijatuhkan AS pada Korea Utara, ditambah tekanan militer dan politik turut berperan dalam membawa perkembangan saat ini.

"Meringankan sanksi tidak akan membuat negosiasi lebih mudah, justru dapat membuatnya semakin sulit," kata dia.

Sementara hasil dari pertemuan tingkat tinggi antar-Korea yang menghasilkan Deklarasi Panmunjom telah membawa peluang berakhirnya perang Korea, denuklirisasi Semenanjung Korea hingga penutupan fasilitas uji coba nuklir milik Pyongyang.

Pertemuan selanjutnya yang dinantikan adalah antara Trump dengan Kim yang disebut akan dilangsungkan pada akhir Mei atau awal Juni. Presiden Trump mengaku telah menentukan waktu dan tempat pertemuan, namun masih belum bersedia mengungkapkannya pada publik

Sementara Presiden Trump dijadwalkan akan menjamu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Gedung Putih pada 22 Mei. Pertemuan ini akan menjadi ketiga kalinya dilakukan kedua pemimpin negara dalam waktu setahun terakhir.

Moon sebelumnya telah bertemu Trump di Gedung Putih pada Juni 2017, sebulan setelah dirinya dilantik sebagai Presiden Korsel. Trump kemudian balik berkunjung ke Seoul saat melakukan rangkaian kunjungan kerja ke sejumlah negara di Asia pada bulan November 2017. (tribunjateng/cetak/kps)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved