Breaking News:

Musibah Longsor

Tak Mau Terisolasi, Warga Dua Desa Iuran Sewa Alat Berat Membuka Jalan Baru

Tak Mau Terisolasi, Warga Dua Desa Bantar dan Suwidak Kecamatan Wanayasa Iuran Sewa Alat Berat Membuka Jalan Baru

tribunjateng/khoirul muzaki
Warga Desa Bantar dan Suwidak Kecamatan Wanayasa kabupaten Banjarnegara iuran untuk sewa alat berat guna membuka akses jalan baru setelah terisolasi longsor 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Empat bulan bukan waktu singkat bagi penduduk Desa Bantar dan Suwidak Kecamatan Wanayasa untuk bertahan dari penderitaan akibat longsor.

Jalan kabupaten yang menghubungkan dua desa itu dengan dunia luar putus karena longsor hingga membuat ribuan jiwa terisolasi.

Semakin lama pergerakan tanah melambat hingga terhenti.

Tetapi jalan yang hancur tak juga kunjung diperbaiki oleh pemerintah. Sementara warga semakin tercekik karena harga berbagai kebutuhan pokok melambung tinggi.

Kondisi ini tak mungkin dibiarkan terus jika tidak ingin desa mereka mengalami kehancuran di segala bidang. Akhirnya penduduk memutuskan untuk mengubah nasib mereka sendiri.

Warga Desa Suwidak dan Dusun Sikening Bantar berembug untuk mencari jalan keluar atas permasalahan ini. Mereka sepakat untuk membuka akses jalan baru di area bekas longsor.

Tetapi untuk mewujudkannya tidak mudah. Jalan aspal lama sudah hilang. Permukaan tanah telah ambles puluhan meter karena tertarik longsor. Tenaga manusia tak cukup untuk meratakan permukaan tanah yang terjal.

Mereka akhirnya bersepakat iuran minimal Rp 50 ribu setiap Kepala Keluarga (KK) untuk membuka akses jalan itu, termasuk menyewa alat berat beserta operatornya.

Hingga akhirnya terkumpul dana lebih dari Rp 40 juta dari penduduk dan warga yang bekerja di perantauan.

"Ini murni swadaya masyarakat, kami tentukan anggaran sesuai kemampuan masyarakat," kata Kepala Urusan Keuangan Desa Suwidak Nirdiyanto, Senin (7/5).

Ternyata tidak mudah meyakinkan warga agar mau mengeluarkan uang untuk pembukaan jalan ini. Maklum, di desa yang jauh dari pusat kota ini, banyak warga berekonomi lemah. Terlebih ekonomi yang mereka bangun bertahun-tahun sudah hancur karena longsor.

Bencana yang kerap melanda wilayah itu membuat warga kecil hati. Sebagus apapun jalan dibangun dengan biaya tinggi, pada akhirnya akan putus kembali karena pergerakan tanah nanti.

Tetapi lambat laun warga tersadar, pemikiran demikian tak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun, akses jalan harus dibuka agar nadi ekonomi kembali berdenyut. Dengan begitu, mereka bisa melanjutkan hidup.

Potensi pergerakan tanah tak mungkin dielakkan, karena mereka telah memilih sendiri tinggal di atas permukaan tanah yang labil. Mereka harus mulai beradaptasi dengan karakter alam sekitar, jika tak ingin relokasi ke daerah lain.

"Kalau nanti jalan longsor lagi, ya swadaya bangun lagi. Risiko tinggal di wilayah rawan, ya seperti itu, harus dipahami,"katanya

Menurut Nirdiyanto, pekerjaan ini ditargetkan sampai jalan betul-betul layak dilalui kendaraan roda empat. Saat ini, jalan baru bisa dilalui sepeda motor. Pengendara harus ekstra hati-hati karena permukaan jalan tidak rata, serta banyak lendutan tanah. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved