Dua Jenderal dari Polri Dimunculkan untuk Jadi Cawapres Jokowi

Dua perwira tinggi Polri, Jenderal (Purn) Budi Gunawan dan Komjen Syafruddin berpeluang menjadi calon wakil presiden Joko Widodo

Editor: m nur huda
Tribunnews
Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan berjabat tangan dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (9/9/2016). Budi Gunawan dilantik menjadi kepala BIN menggantikan Sutiyoso. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Dua perwira tinggi (pati) Polri, Jenderal (Purn) Budi Gunawan dan Komisaris Jenderal Syafruddin berpeluang menjadi calon wakil presiden Joko Widodo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sedangkan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, disebut tak masuk bursa calon wakil presiden. Sebab, mantan Kapolda Metro Jaya itu lebih terfokus terhadap kerjanya di instansi penegak hukum tersebut.

"Kapolri itu tidak kepingin menjadi cawapres. Jadi yang paling mungkin itu persaingan Budi Gunawan dan Syafruddin. Itu sudah ada pernyataan dari humas. Dia memang tidak mau," ujar Peneliti Strategis dan Intelijen, Surya Fermana, dalam sesi diskusi Maraknya Cawapres dari Polri di Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018) malam.

Surya mengungkapkan sejumlah alasan mengapa Budi Gunawan dan Syafruddin berpeluang menjadi pendamping Jokowi. Menurut dia, alasan pertama karena kedekatan dengan tokoh politik nasional.

"Yang mempunyai gejala maju dua orang itu. Wakapolri dan Kepala BIN. Dua-duanya kuat. Budi Gunawan dekat dengan PDI P. Syafruddin dekat dengan Jusuf Kalla. Dua-duanya dekat dengan tokoh politik," kata dia.

Sementara itu, alasan kedua karena keterlibatan Budi Gunawan dan Syafruddin di dalam kegiatan pemerintah. Seperti diketahui, mereka sama-sama terlibat di dalam Dewan Masjid.

Pada bulan Januari 2018, Budi Gunawan dikukuhkan sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia pada masa bakti 2017-2022. Sedangkan, Syafruddin menempati posisi sebagai Wakil Ketua Umum.

Tak hanya itu, Syafruddin bahkan juga ditunjuk sebagai Chief de Mission (cdM) atau Ketua Kontingen Indonesia pada Asian Games 2018. Asian Games merupakan multievent cabang olahraga antara negara di benua Asia.

"Kapolri tidak masuk karena tidak ikut di Dewan Masjid. Tidak ikut Chief de Mission Asian Games. Kapolri hanya mengurus urusan kepolisian. Kalau yang Budi Gunawan, Syafruddin ini masuk dalam urusan-urusan masjid, olahraga," ujarnya.

Dia melihat keterlibatan Polri di dalam kegiatan pemerintah sama seperti fungsi tentara di zaman pemerintahan Orde Baru. Dia menjelaskan, polisi mempunyai jaringan kuat, sosialitas ekonomi, politik dan grassroot teritorial.

Saat ini, kata dia, tinggal Jokowi mempertimbangkan kedua orang tersebut. Meskipun tidak berlatar belakang politik, namun sepak terjang mereka dinilai dapat menjadi nilai lebih.

Untuk jabatan sebagai wakil presiden, dia melihat, tingkat elektabilitas seseorang tidak akan mempengaruhi. Apalagi, nantinya calon presiden yang akan menunjuk siapa pendampingnya selama lima tahun ke depan.

"Politik murni dan tidak murni soal lain. Yang penting siapa yang mempunyai kekuatan. Politik itu siapa yang mempunyai kekuatan. Tidak penting (elektabilitas,-red), dia kan hanya cawapres," tambahnya.(*)

Sumber: Tribunnews.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved