Ketua Umum GP Ansor Dorong Evaluasi Menyeluruh Rutan Napiter

Perlu evaluasi penuh dan menyeluruh pada rutan untuk napiter. Harus dievaluasi protap keamanan selama ini

Ketua Umum GP Ansor Dorong Evaluasi Menyeluruh Rutan Napiter
TRIBUNJATENG/BAKTI BUWONO
Ketua Umum GP Ansor KH Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Tutut 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi langkah Polri yang berhasil mengatasi kericuhan dan penguasaan para narapidana terorisme (napiter) di rutan Mako Brimob lebih dari 38 jam. 

"Saya memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras Polri yang berhasil mengakhiri 'drama' mengerikan lebih dari 38 jam tanpa menimbulkan korban baru, baik dari pihak aparat maupun dari napiter," kata Yaqut, di Jakarta, Kamis (10/5/2018) melalui keterangan persnya.

Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mendukung penuh pihak kepolisian yang menyelesaikan kasus pembangkangan ratusan napiter tersebut dengan mekanisme penanggulangan pemulihan keadaan.

Mengingat apa yang dilakukan para napiter sudah sangat brutal. Mereka membunuh lima orang aparat kepolisian secara sadis. 

"Memang harus tegas, tapi taktis. Saya malah minta kalau memang perlu tindakan represif untuk menanggulangi tindakan brutal teroris, ya lakukan saja. Sebab, terorisme adalah kejahatan luar biasa. Kita kan lihat sendiri mereka sadis, brutal, tidak berperikemanusian," tegasnya. 

Selanjutnya, ia meminta ada evaluasi penuh dan menyeluruh pada rutan untuk napiter. Harus dievaluasi protap keamanan selama ini yang sudah dilakukan. 

"Coba lihat saja, ada alat komunikasi bisa masuk ke dalam sehingga bisa mengunggah propaganda atas kasus tersebut ke media sosial. Mereka juga bisa dengan mudah membuat kerusuhan bahkan menguasai senjata sampai 30 pucuk. Ini bahaya sekali," ujar Gus Yaqut. 

Selanjutnya Gus Yaqut meminta agar dilakukan pemisahan bagi napiter di rutan-rutan umum.

"Tentu dengan melakukan profilling terhadap napi teroris itu sendiri. Apakah dia tergolong ideolog, anggota militan atau simpatisan.

Termasuk apakah ideologi terornya berakar dari faksi Ikhwanul Muslimin, salafi/wahabi, atau Hizbut Tahrir. Karena, tentu berbeda treatment-nya. Nggak bisa disatukan dalam satu blok atau satu komplek rutan," tutupnya. (*) 

Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved