Ki Enthus Susmono Meninggal Dunia
Teknik Pagelaran Wayang Ki Enthus Susmono 'Mak Greng', Ini Kata Sahabat
Sebagai dalang wayang kulit Enthus Susmono memiliki penggemar dari berbagai kalangan,
Penulis: Bare Kingkin Kinamu | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Bare Kingkin Kinamu
TRIBUNJATENG.COM - Perjalanan hidup seseorang di dunia tak bisa diprediksi kapan akan berakhir.
Ia telah tutup mata, berganti perjalanan spiritual baru usai meninggalkan jasad yakni di alam barzah.
Ia adalah dalang kondang Ki Enthus Susmono.
Ya, media sosial digegerkan dengan meninggalnya seniman wayang kulit kondang ini pada Senin (14/5/2018) malam sekitar pukul 19.15 WIB.
Banyak kerabat yang langsung saling mengontak memastikan kebenaran kabar duka tersebut, tak terkecuali Yono Daryono.
Sebagai dalang wayang kulit Enthus Susmono memiliki penggemar dari berbagai kalangan, baik pemuda hingga yang sudah cukup umur.
Lalu apa ciri khas Dalang Wayang Kulit yang tutup usia pada 52 tahun ini?
Berikut keterangan Yono Daryono (63), budayawan teater sekaligus sutradara asal Kota Tegal, kepada Tribunjateng.com, Selasa (15/5/2018).
"Saya terakhir bertemu Enthus Susmono bulan Februari 2018, waktu itu ia menjadi wakil wali rumah di acara nikahan anak saya Wisnu Legowo Wicaksono," jelas Yono Daryono, sahabat sekaligus guru teater Ki Enthus Susmono semasa hidup.
Yono menjelaskan jika saat pentas kreatifitas Ki Enthus Susmono sangat detail dan tepat sasaran isinya.
"Mak greng! sekali saat pementasan. Ciri khas yang tidak dimiliki oleh dalang lain yakni ini pada sabetan, bloking wayang, dan pengadegannya," jelas Yono.
Semasa hidup, Ki Enthus Susmono bergabung di teater RSPD besutan Yono Daryono di Kota Tegal sejal 1994.
Sejak itu pula Ki Enthus Susmono mengembangkan cara mendalang.
Pentasnya sepi dari kata monoton, selalu dinamis.
"Sabetan itu cara memainkan wayang terutama saat tarung (perang), dia berbeda, caranya sangat dipengaruhi oleh gaya teater modern, dan musik gamelannya sangat dinamis," jelas Yono Daryono.
Jika Dalang wayang kulit pada umumnya menggunakan pakem klasik-an sesuai aslinya seperti pementasan Ki Manteb Sudarsono, yang juga guru Ki Enthus Susmono.
Enthus Susmono berani mengkreasikan makna budaya zaman old dengan zaman now secara apik.
"Mak greng" itulah istilahnya. Selama menjabat sebagai Bupati Tegalpun Enthus selalu ceplas-ceplos.
"Dia memiliki ciri khas sendiri, namanya seni, ia bisa menjadi dirinya sendiri," imbuh Yono Daryono.
Semasa hidup lakon wayang yang ditampilkan Ki Enthus Susomo yang membuat Yono Daryono paling berkesan yakni saat mementaskan Sugriwo-Subali.
"Saat tarung terasa kreasi yang berbeda di sana, apalagi di padukan dengan musik," jelas Yono.
Itulah ciri khas Ki Enthus Susmono yang selalu dirindukan para penggemarnya.
Banyak anak muda yang tertarik menonton pentas Ki Enthus terlebihlagi saat mementaskan wayang lupid.
Sosok tersebut meski telah tiada, karyanya abadi melalui kisah-kisa pewayangan dan karya wayangnya.(*)