Teror Bom Surabaya

Wali Kota Hendi Pimpin Doa Bersama untuk Korban Bom Surabaya di Tengah Prosesi Dugderan

Puluhan ribu orang memadati halaman Balaikota Semarang meluber hingga ke Jalan Pemuda Kota Semarang.

Wali Kota Hendi Pimpin Doa Bersama untuk Korban Bom Surabaya di Tengah Prosesi Dugderan
ISTIMEWA
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi Dugderan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Puluhan ribu orang memadati halaman Balaikota Semarang meluber hingga ke Jalan Pemuda Kota Semarang.

Mereka terlihat antusias menonton tarian ragam warna dugder yang dipertontonkan oleh puluhan orang berpakaian tradisional Jawa.

Pertunjukan tarian itu menjadi pembuka prosesi Kirab Budaya Dugderan, Selasa (15/5).

Prosesi yang diikuti tak kurang dari 2.300 peserta pada tahun ini, merupakan sebuah tradisi masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Namun ada pemandangan sedikit berbeda dari pakem prosesi kirab yang seharusnya.

Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi tersebut tiba-tiba meminta masyarakat yang riuh memadati Balaikota Semarang untuk tenang.

Dirinya meminta masyarakat untuk menyempatkan diri berdoa bagi para korban bom di Surabaya.

"Saudara-saudara, sebelum karnaval dimulai, mari kita semua berdoa kepada Allah untuk korban terorisme di Surabaya, kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing," pinta Hendi.

Setelah memipin doa bersama, pria yang juga politisi PDI Perjuangan itu pun kembali melanjutkan prosesi dengan memukul bedug, sebelum kemduian dirinya ikut dalam rombongan kirab menaiki kereta kuda untuk berangkat ke Masjid Kauman Semarang dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Pemandangan yang menarik terlihat dalam iring-iringan rombongan kirab tersebut. Kereta kuda yang dinaiki Hendi tampak dikawal langsung oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji.

Di Masjid Kauman, dirinya menerima Suhuf Halaqoh dari para alim ulama di Kota Semarang serta membagikan kue khas Semarang yaitu Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran.

Selepas mengikuti proses di Masjid Kauman Semarang, Hendi beserta rombongan bertolak ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah, yang diwakili oleh Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono.

Hendi menuturkan, prosesi Kirab Dugderan yang dengan membawa Warak ini dapat juga dimaknai sebagai simbol toleransi yang kuat.

"Warak sendiri kan adalah hewan mitologi Kota Semarang yang melambangkan keberagaman," jelas Hendi.

"Tadi juga rombongan kirab paling depan membawa bendera Merah Putih, ini adalah representasi kondisi Kota Semarang yang menjunjung tinggi NKRI dalam keberagaman," tegasnya.(*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved