Peserta Antusias Bahas Flek Hitam dan Jerawat

Peserta Antusias Bahas Flek Hitam dan Jerawat. Benarkah air liur bekicot bisa untuk hilangkan flek hitam?

Peserta Antusias Bahas Flek Hitam dan Jerawat
tribunjateng/ist
Event tahunan symposium & workshop bertema Antiaging and Cosmetic Dermatology Update digelar 11-12 Mei 2018 di ballroom MG Setos, Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Event tahunan symposium & workshop yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Semarang berlangsung meriah. Acara dihadiri kurang lebih 720 orang, berasal dari kalangan kesehatan seperti dokter hingga tenaga medis dari penjuru nusantara.

Mengusung tema "Antiaging and Cosmetic Dermatology Update", acara berlangsung selama dua hari, 11-12 Mei 2018 di ballroom MG Setos, Kota Semarang. Tujuannya untuk terus mengupdate ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kulit dan kelamin.

Para peserta semangat mengikuti kegiatan mulai dari awal sampai hari penutupan. Salah satu tema yang paling menarik perhatian dan mendapat respon positif ketika pembahasan terkait flek hitam dan jerawat.

Ketua Perdoski Cabang Semarang, DR dr Puguh Riyanto, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, menilai pembahasan mengenai flek hitam dan jerawat pada kulit paling banyak mendapat perhatian peserta karena keduanya merupakan persoalan umum yang paling sering dijumpai di lapangan.

Sehingga peserta merasa butuh untuk update ilmu, khususnya penanganan medis terhadap kedua problem tersebut. Seperti misalnya penanganan flek hitam menggunakan air liur bekicot atau menghilangkan jerawat dengan laser.

DR dr Puguh Riyanto, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, menambahkan, perlu diingat metode atau ilmu terbaru di atas tidak sembarangan diterapkan. Seperti pemanfaatan air liur bekicot untuk menghilangkan flek hitam, harus melalui sterilisasi dan uji klinis agar siap dipakai.

Begitu pun dengan penggunaan laser untuk menangani masalah jerawat. Tindakan medis laser tidak diperbolehkan dilakukan dokter umum harus spesialis bersertifikat karena treatment tersebut banyak resiko. Sekarang aturan tersebut belum sepenuhnya ditaati. Pemerintah juga terus mendorong menertibkannya.

Di klinik aesthetic medicine sendiri hanya boleh dikelola oleh dokter spesialis. Sedangkan dokter umum hanya boleh melakukan empat tindakan estetic, antara lain botok wajah sepertiga ke atas, mikrodermabrasi, peeling superficial, dan Intensive pulse light.

“Padahal istilah dokter kecantikan tidak ada, adanya dokter spesialis kulit dan kelamin. Selain itu, istilah klinik kecantikan juga oleh Kemenkes diganti aesthetic medicine, yang berada di bawah naungan klinik utama” ujarnya.

Dokter RSUP Kariadi Semarang, Dr. Retno Indar W.,Msi,SpKK(K),FINSDV, sebelumnya mengungkapkan fenomena penuaan dini di tengah masyarakat semakin memprihatinkan. Pola gaya hidup seperti penggunaan obat kosmetik ilegal tak jarang menjadi salah satu penyebab utama.

Halaman
12
Penulis: arief novianto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved