Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Banyak Anak Jadi Sulit Diatur Gara-gara Kecanduan Gadget

Sekarang banyak keluhan dari beberapa orangtua saat memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak diduga merupakan dampak kecanduan gadget.

Tayang:
Editor: iswidodo
net
ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dampak negatif dari gadget bagi anak-anak semakin memprihatinkan. Fakta mencengangkan terungkap dari obrolan Tribun Jateng bersama Kepala Sekolah KB-TK Bernardus, Anastasia Kiswati, baru-baru ini.

Ia bercerita, sekarang banyak keluhan dari beberapa orangtua saat memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak (TK) yang diduga merupakan dampak kecanduan gadget.

Hal itu antara lain anak belum fasih berbicara alias telat bicara. Kasus lain ada juga gangguan konsentrasi, serta kecenderungan anak semaunya sendiri atau sulit diatur.

"Sebagai guru TK saya merasa sangat prihatin dengan adanya fenomena gadget (kecanduan-Red)," ujarnya.

Anastasia memberi saran untuk para orangtua yang memiliki anak usia dini sebaiknya bersikap bijaksana dalam mengasuh putra putrinya agar jangan sampai mengalami kecanduan gadget.

Sebagai alternatif pilihan untuk mengarahkan putra putrinya supaya tidak tergila-gila dengan gadget, menurut dia, bisa dilakukan dengan menyediakan buku bacaan, dan buku cerita. Sediakan juga waktu untuk bersama putra putrinya membaca buku.

Selain itu, dia menambahkan, bisa juga anak-anak diberikan mainan atau permainan yang unik. Kenalkan berbagai permainan tradisional kepada anak.

Anastasia berujar, banyak permainan tradisional yang bisa diberikan kepada anak, misalnya gasing, dakon, bekelan, jamuran, dan cublak-cublak suweng.

"Itu bisa memberikan manfaat ganda bagi orangtua, yaitu anak terhindar dari permainan gadget, dan hubungan sosial emosional antara anak dan orangtua terjalin semakin baik," paparnya.

Anastasia menyatakan, orangtua harus bisa menjadi figur bagi-anak-anaknya, sehingga menghindari bermain HP di depan anak bisa menjadi satu solusi.

Bagi anak yang sudah terlanjur kecanduan gadget, mereka harus segera disembuhkan atau diatasi. "Apapun caranya, peran orangtua sebagai figur. Konsistensi orangtua sangat penting," ucapnya.

Adapun, Kabid Perlindungan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP2AKB) Jateng, Winarna berujar, anak kecanduan gadget bermula dari pola pengasuhan dalam keluarga yang kurang tepat.

Seringkali, menurut dia, orangtua memberi mainan gadget kepada anaknya, dengan harapan agar si buah hati tidak merepotkan dan rewel, tapi tanpa didampingi dan kontrol dalam penggunaannya.

"Akan lebih parah jika ternyata anak kemudian terpapar pornografi, karena kurang kontrolnya orangtua terhadap anaknya saat menggunakan gadget," paparnya.

Dia menyampaikan, jika anak sudah sampai mengalami kecanduan gadget, anak dan orangtua perlu didudukkan bersama. "Upaya pemulihan perlu dilakukan, dengan melibatkan kedua belah pihak (orangtua dan anak-Red)," jelasnya.

Terkait dengan pengembangan pola asuh anak, di Jateng sudah terdapat Perda No. 2/2018 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga. ‎Selain itu, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jateng juga telah mengembangkan modul pengasuhan bagi keluarga.

"Sehingga, diharapkan kader PKK di lapangan hingga lapisan terbawah, bisa menjadi pioner untuk melakukan upaya-upaya pencegahan, terkait dengan berbagai persoalan di keluarga, terutama soal pola asuh anak," jelasnya.

Menurut dia, peran lain yang dilakukan BP3AKB dalam pola asuh anak yang tepat adalah dengan menumbuhkan minat anak di bidang olahraga, permainan edukatif, gemar membaca, dan lain-lain. Sehingga, harapannya ini dapat mengurangi potensi anak kecanduan atau ketergantungan pada gadget.

"Tidak kalah penting adalah keteladanan orangtua, dengan tidak memakai gadget di depan anak. Selain itu perlu ada komitmen dan kesepakatan bersama dengan anak, terkait dengan pembatasan penggunaan gadget. Semisal, kapan dan berapa lama anak boleh menggunaan gadget," terangnya.

‎Selain kecanduan, potensi perilaku negatif yang timbul karena penggunaan gadget yang tidak tepat adalah kekerasan, bullying, pencabulan, bahkan pembunuhan.

"Tak jarang anak termotivasi berbuat kekerasan, bullying, cabul, atau bahkan pembunuhan, karena meniru adegan game yang dimainkannya di dalam gadget. Itu perlu diwaspadai," tandasnya. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved