LIPUTAN KHUSUS

Begini Ciri-ciri Sikap Anak yang telah Kecanduan Gadget, Apa Solusinya?

Anak-anak dapat dikatakan kecanduan gadget jika pikiran, perasaan, dan perilaku mereka terpaku pada gadget, tak bisa lepas

Begini Ciri-ciri Sikap Anak yang telah Kecanduan Gadget, Apa Solusinya?
youtube
ilustrasi game di gadget yang disukai banyak kalangan Anak-anak dapat dikatakan kecanduan gadget jika pikiran, perasaan, dan perilaku mereka terpaku pada gadget, tak bisa lepas dari gadget, dan sudah tak terkendali. 

News Analysis oleh Hilman Al Madani - Psikolog

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Saat ini marak diberitakan anak-anak Indonesia kecanduan gadget. Riset FKUI mencatat, sekitar 20 persen anak-anak Indonesia kecanduan gadget. Itu belum termasuk yang masih pada tahap problematic level (sudah tampak bermasalah meski belum sampai level kecanduan).

Saat ini, populasi anak dan remaja Indonesia berkisar 90 juta jiwa. Jumlah 20 persen dari 90 juta rasanya cukup banyak dan sudah harus membuat kita waspada. Dampak yang ditimbulkan akan sangat berpengaruh bukan hanya bagi kehidupnya sendiri, tapi juga bagi lingkungan sosialnya.

Anak-anak dapat dikatakan kecanduan gadget jika pikiran, perasaan, dan perilaku mereka terpaku pada gadget, tak bisa lepas dari gadget, dan sudah tak terkendali.

Artinya, pikiran dan perasaannya selalu terbayang tentang hal yang berbau gadget, ingin selalu menyentuh dan bermain gadget meski tidak membutuhkan, hingga bermasalah pada hubungannya dengan lingkungan.

Mengapa anak kecanduan? Rasanya kita harus jujur bahwa kecanduan gadget pada anak bermula dari rumah, yaitu dari pola asuh orangtua.

Banyak dampak negatif akibat kecanduan gadget. Secara garis besar, kecanduan akan membuat anak mengalami hippo frontal syndrom, atau fungsi otak bagian depan yang rendah.

Yang terjadi adalah anak tak mampu merencanakan masa depan, kehilangan kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, malas berpikir lama, tidak mampu merangkai beberapa kegiatan untuk mencapai tujuan, tidak mampu melakukan kegiatan yang terstruktur dan terencana, kehilangan ambisi, kehilangan respon sosial dan moral, sulit menunda kepuasan, dan tak mampu mengontrol diri.

Dampak di atas belum termasuk kemampuan sosial yang rendah karena tak terlatih, sehingga konten-konten negatif yang akan membentuk struktur berpikir dan kepribadian anak-anak kita.
Gadget tidak selalu negatif. Anak-anak kita besar di era gadget. Mereka adalah generasi milenial atau biasa disebut dengan digital native.

Banyak manfaat dan teknologi luar biasa yang membuat kehidupan bisa lebih optimal dengan gadget. Jadi, mana mungkin tidak menggunakan gadget.

Banyak sekali anak-anak muda kita yang sudah berhasil memanfaatkan gadget dengan baik dan bijak hingga ‘menyejahterakan’ hidupnya.

Satu contoh Almeida Nayara. Siswi SD itu berhasil memanfaatkan gadget untuk berjualan 'Slime' hingga ke ujung Indonesia, dan menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan.

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua? setiap orangtua ingin anaknya sehat dan selamat, bisa memanfaatkan gadget dengan bijak tanpa harus mengalami kecanduan.

Yang harus dilakukan orangtua adalah, bangun kenyamanan dalam keluarga. Ingat, anak-anak butuh kenyamanan yang bersumber dari orangtua, agar ia tak mencarinya dari hal lain yang justru menjerumuskan.

Sempatkan ngobrol secara rutin dengan anak. Komunikasi yang sehat antara orangtua dengan anak akan mengasah otak bagian kontrol. Mereka membutuhkan kemampuan kontrol diri yang baik di tengah berbagai tantangan dan ancaman. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved