FOCUS
Pameran Kebengisan di Gaza
Konflik ternyata tidak kunjung berakhir. Sudah banyak pula resolusi yang diterbitkan Dewan Keamanan PBB, akhirnya mejan tak ada solusi.
Penulis: abduh imanulhaq | Editor: iswidodo
Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Abduh Imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM - Menjelang Ramadan, situasi di Jalur Gaza kembali memanas. Tentara Israel secara semena-mena menembaki para pengunjuk rasa yang memprotes pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem.
Lebih dari 60 warga Palestina dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut. Ribuan lainnya terluka, banyak di antaranya yang terkena peluru tajam.
Memang tidak mudah menyelesaikan masalah Palestina ini. Kita perhatikan, tak terhitung berapa banyak perundingan yang diinisiasi beberapa negara, termasuk pula oleh Perserikatan Bangsa-bangsa.
Konflik ternyata tidak kunjung berakhir. Sudah banyak pula resolusi yang diterbitkan Dewan Keamanan PBB, akhirnya mejan tak menghasilkan solusi.
Ada berbagai negosiasi yang didorong, ternyata perdamaian tak terwujud. Situasi diketahui semakin hangat sejak akhir tahun lalu, setelah Amerika Serikat menyampaikan pengakuannya bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel.
Negara adidaya itu pada waktu bersamaan juga menyatakan akan segera memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv. Ketika rencana itu diwujudkan pada pertengahan bulan ini, gelombang protes pun merebak di Jalur Gaza.
Setidaknya sejak Senin lalu ada demonstrasi di lima titik berbeda di wilayah perbatasan ini. Unjuk rasa itu ditanggapi Israel melalui pameran kekuatan dan kebengisan sehingga korban berjatuhan.
Tak kurang dari media dalam negeri Israel sendiri yang mengkritik sikap pemerintahnya menghadapi para demonstran. Ketika Israel berkilah bahwa kekerasan itu sebatas pembelaan diri, media Haaretz menyatakan tak ada satu pun di antara pengunjuk rasa yang meluncurkan roket atau memberondongkan peluru.
Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh AS memang memperlebar masalah konflik dan mengancam proses perdamaian. Keputusan Presiden Donald Trump untuk memenuhi janjinya semasa kampanye pencalonan itu terbilang provokatif.
Begitu dia mengumumkannya pada Desember lalu, sejumlah negara segera merilis kecaman resmi. Tak sedikit yang mengingatkan bahwa pengakuan itu justru memperburuk sengketa di Timur Tengah.
Kecaman keras tak luput disampaikan pemerintah Indonesia yang konsisten mendukung perjuangan Palestina. Trump yang memang menganggap Israel sebagai sekutu terdekat tak ambil pusing atas berbagai reaksi tersebut.
Bagi Israel, seluruh bagian Yerusalem adalah "ibu kota abadi dan tak terpisahkan". Termasuk Yerusalem Timur yang mereka kuasai pada perang 1967.
Status Yerusalem selama ini merupakan bagian dari agenda perundingan Palestina dan Israel. Rupanya Trump ingin mengeluarkannya dari agenda sehingga kota suci bagi tiga agama itu tidak masuk sebagai bagian negosiasi.
Sulit untuk memisahkan masalah pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan kekerasan yang terjadi sekarang di Jalur Gaza. Kebengisan yang dipertontonkan tentara Israel bermula dari keputusan Trump memenuhi janjinya dalam kampanye.
Keputusan itu terbukti blunder dalam proses perdamaian di Timur Tengah. Amerika Serikat yang juga memosisikan diri sebagai penengah justru mendorong bola konflik semakin liar. (tribunjateng/cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/abduh-imanulhaq-atau-aim-wartawan-tribun-jateng_20170825_072028.jpg)