Opini

Ramadan Luruhkan Kebencian, Pancarkan Kasih Sayang

Ramadan Luruhkan Kebencian, Pancarkan Kasih Sayang. Opini ditulis oleh Al-Mahfud, Lulusan STAIN Kudus (sekarang IAIN Kudus)

Ramadan Luruhkan Kebencian, Pancarkan Kasih Sayang
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Ramadan Luruhkan Kebencian, Pancarkan Kasih Sayang. Opini ditulis oleh Al-Mahfud, Lulusan STAIN Kudus (sekarang IAIN Kudus) 

Opini ditulis oleh Al-Mahfud, Lulusan STAIN Kudus (sekarang IAIN Kudus) bergiat di Paradigma Institute (Parist) Kudus

TRIBUNJATENG.COM - Beberapa hari jelang memasuki bulan suci Ramadan, kita dikejutkan peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Bom yang meledak pada Minggu (13/5) pagi masing-masing di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Gereja Pantekosta Pusat tersebut, telah memakan belasan korban jiwa dan korban luka-luka. Kita tentu prihatin terhadap para korban dan menentang aksi teror tersebut. Aksi bom bunuh diri jelas tindakan yang tak bisa dibenarkan, karena melukai dan menghancurkan kemanusiaan.

Kasus teror bom di Kota Pahlawan tersebut, di samping menjadi catatan evaluasi pihak keamanan, juga harus kita jadikan sebagai bahan refleksi bersama agar lebih menyadari bahaya paham ekstrem dan pentingnya membersihkan diri dari kebencian dan aksi kekerasan. Aksi-aksi terorisme, salah satunya dipengaruhi oleh faktor kebencian bercampur pemahaman sempit dalam memahami teks kitab suci. Aksi dan seruan melakukan teror kadang bermula dari kebencian pada suatu kelompok atau tatanan sosial yang dianggap tak sesuai apa yang diyakini, yang terus-menerus diserukan lewat narasi kebencian di pelbagai saluran media. Ujaran kebencian disebar, memengaruhi orang-orang, sehingga ada yang terjerumus dan tanpa ragu melakukan aksi teror, termasuk melakukan bom bunuh diri.

Kebencian yang kerap menjadi awal dari aksi-aksi teror tersebut bisa kita jadikan bahan renungan. Kita sudah berkali-kali mendengar kabar aksi teror dilakukan kelompok radikal-terorisme lewat bom bunuh diri di pelbagai tempat, dan dari sana kita melihat bagaimana nyawa orang begitu mudah melayang hanya karena pemahaman agama yang sempit dan kebencian yang terus dikobarkan. Belum lagi, dampak yang lebih luas yang bisa diakibatkan, seperti potensi keretakan sosial dan rusaknya harmoni hubungan antar-agama.

Bulan suci

Bulan suci Ramadan yang segera datang menjadi saat tepat bagi kita semua untuk menjadikannya sebagai momentum meredam segala bentuk hawa nafsu, termasuk hawa nafsu penyakit hati seperti kebencian dan dorongan melakukan kekerasan. Berpuasa tak sekadar tentang menahan keinginan makan dan minum, namun juga meredam kebencian dan dorongan melakukan kekerasan. Saat berpuasa dan menaham hawa nafsu, kita membersihkan raga, jiwa, dan batin kita dari segala hal negatif. Dari sana, jiwa, batin, dan pikiran menjadi lebih jernih dalam memandang setiap hal, sehingga tak gampang emosi dan amarah yang merusak.

Ikhwan Sofa, pakar Neuro-Linguostic Programming (NLP) mengungkapkan bahwa dampak paling menonjol dari puasa adalah kestabilan emosi, sebab orang terbebas dari ketergantungan pada makanan. Di samping itu, orang menjadi berpikir jernih dan lebih terbuka menerima firman Tuhan di tengah hiruk-pikuk era informasi (Republika.co.id, 12/7/2013). Pikiran yang jernih dan kestabilan emosi merupakan bekal penting yang bisa mengantarkan orang menuju kebijaksanaan dan kedewasaan, sehingga ketika melihat realitas sosial yang belum sesuai dengan yang diidealkannya, ia tak gampang terpancing emosi dan melontarkan ujaran kebencian, terlebih terpengaruh paham radikal dan melakukan kekerasan.

Berpikir jernih, kestabilan emosi, dan kebijaksanaan yang terus dilatih dan ditempa selama berpuasa di bulan suci Ramadan diharapkan melahirkan orang-orang yang memiliki kedewasaan dan kematangan dalam pemahaman agama. Di samping itu, juga memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi pelbagai permasalahan di sekitarnya, sehingga tak gampang terjerumus dalam pengaruh paham kekerasan yang gencar disuarakan kelompok radikal.

Sucikan diri

Menghindarkan diri dari sifat benci memang tak mudah. Keragaman manusia, dengan segala karakter dan identitas yang melekat, kerap jadi faktor pemantik munculnya kebencian kita pada sesama. Apalagi, sekarang kita hidup di era informasi dan media sosial yang hampir tak henti menyajikan isu-isu terkait konflik politik, sosial, ekonomi, yang sarat provokasi. Pelbagai faktor tersebut kadang diam-diam menumbuhkan rasa curiga dan kebencian pada sesama. Dari sana, tanpa sengaja kita menjadi gampang melontarkan sindiran, hujatan, dan ujaran kebencian pada orang lain.

Namun, kita bisa berupaya membersihkan diri dari penyakit benci. Hamza Yusuf, dalam buku Purification of the Heart (Mizan: 2017) terjemahan dan penjelasan dari kitab Mathharat Al-Qulub (Pemurnian Hati) karya wali besar Syaikh Muhammad Mawlud Al-Ya’qubi Al-Musawi Al Muratani menjelaskan, dalam mengobati kebencian kita harus mendoakan dengan tulus orang yang dibenci, memohon pada Allah Swt. agar memberi orang yang dibenci itu kebaikan di dunia dan akhirat. Jika seseorang melakukan hal ini dengan tulus, hatinya akan sembuh. Di samping itu, kebencian juga akan hilang ketika hati kita dipenuhi cinta. Dalam hal ini, Hamza Yusuf menjelaskan bahwa benci adalah tiadanya cinta; dan hanya melalui cintalah kebencian dapat dihapus dari hati. Jadi, menyucikan hati dari penyakit benci di samping dengan mendoakan, juga perlu dibarengi menumbuhkan cinta pada sesama.

Dalam konteks tersebutlah, momentum puasa Ramadan, lewat pelbagai amalan dan ibadah di dalamnya, menjadi relevan dijadikan “wadah” untuk menyucikan diri dari penyakit hati. Puasa Ramadan membuat kita menahan hawa nafsu yang kemudian meluruhkan noda-noda kebencian yang melekat di hati. Jika kebencian luruh, orang terhindar dari dorongan untuk melakukan aksi-aksi kekekerasan. Dari sana, yang terpancar kemudian hanya cinta dan kasih sayang pada sesama, sehingga kehidupan yang damai akan tercipta. Wallahu a’lam..(tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved