FOCUS

Ngono Ning Aja Ngono

Himma pun menganggap dirinya bodoh karena telah membagikan postingan dari orang lain tanpa tahu kebenaran tulisan itu.

Ngono Ning Aja Ngono
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mas Bambang dan Slamet sedang berada di cangkruk tak jauh dari rumahnya. Melakukan aktivitas rutin di siang bolong sembari ngopi : rembugan tanpa tumindak (berdiskusi tanpa tindakan).

“Ngono ya ngono ning aja ngono apa berarti kita boleh mencuri tapi jangan banyak-banyak, Mas Mbang?,” tanya Slamet. Entah darimana pertanyaan agak brilian itu tiba-tiba muncul dari mulut Slamet.

“Ya bukan gitu Met. Eh, tapi kok tiba-tiba kamu tanya gitu?,” timpal Mas Bambang.

Slamet ternyata mengikuti berita kasus PNS, dosen, dan pilot yang mendapatkan sanksi karena mengeposkan status media sosial facebook dengan menyampaikan ujaran kebencian.

Sebut saja PNS di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, FSA dan Dosen FIB USU, Himma Dewiyana resmi ditetapkan tersangka lantaran mengeposkan sebuah tulisan yang menyebutkan kalau tiga bom gereja di Surabaya hanyalah pengalihan isu dan rekayasa.

“Skenario pengalihan yg sempurna...#2019GantiPresiden," tulis akun facebook Himma Dewiyana.

Himma pun menganggap dirinya bodoh karena telah membagikan postingan dari orang lain tanpa tahu kebenaran tulisan itu.

“Saya bodoh banget. Saya himbau masyarakat jangan asal bagikan tulisan orang lain. Ini orang lain punya. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya berfikir masak sih mungkin seperti itu, lalu saya bagikan. Itulah yang membuat saya tersangka,” ujarnya sesal.

Begitu juga seorang pilot maskapai Garuda Indonesia, Oxky dinonaktifkan sebagai pilot lantaran membagikan tulisan orang lain di media sosial. Menariknya Oxky hanya mengepos ulang dan memberi komentar, "Dudududuuuuu" lalu membagikan tulisan pemilik akun bernama Sofyan.

Sofyan menyebut keluarga Dita, pelaku bom bunuh diri di Surabaya, sebagai korban. Penonaktifan Oxky berlaku sejak Jumat (18/5/2018).

Slamet geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol netizen. “PNS kan masih ‘nyusu’ sama pemerintah. Gaji, tunjangan, masih dari Pemerintah. Lha kok malah nyebar berita yang belum tentu kebenarannya yang seolah-olah itu dilakukan pemerintah. Kalau ada kasus bom bukannya malah mencoreng pemerintahan dan kepala negara, logikanya kok dibolak-balik?,” kata Slamet lalu mencecap kopinya yang mulai dingin.

Mas Bambang lalu mengutip tulisan bloger Iwan M Muljono : “Marah kan boleh, tapi kalau di keramaian kan memalukan. Beda pendapat apa salahnya, tapi kalau sampai lempar-lemparan asbak di depan wartawan kan tidak tahu malu.

Pokoknya untuk hal yang sebenarnya negatif tapi masih bisa ditolerir dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus bisa mengendalikan diri, tidak melampaui batas. Untuk sesuatu yang terlarang, ngono ya ngono itu tidak ada.”

“Lha itu Met. Semoga bisa menjawab pertanyaanmu di awal. Boleh emosi, boleh mereka tidak suka dengan pemerintahan sekarang tapi ya harus tetap bisa menahan diri. Ngono ya ngono ning aja ngono,” pungkas Mas Bambang.(*)

Penulis: galih permadi
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved