Teror Bom Surabaya

Bomber Dita Radikal Sejak SMA, Faiz: Kini Stadium Satu sudah Banyak

Belum tentu terkait, serangan terhadap polisi di Jambi kembali mengingatkan serangan teroris di Surabaya

Bomber Dita Radikal Sejak SMA, Faiz: Kini Stadium Satu sudah Banyak
tribunjateng/dok
Dita Suprianto dan Puji Kuswati; rumah keluarga Puji Kuswati di Banyuwangi 

TRIBUNJATENG.COM - Belum tentu terkait, serangan terhadap polisi di Jambi kembali mengingatkan serangan teroris di Surabaya. Dita Suprianto, pelaku teror yang mengajak istri dan empat anaknya melakukan bom bunuh diri, terus menjadi pembicaraan hangat.

Ahmad Faiz Zainuddin, seorang teman dekat Dita, mengaku tak terkejut pada aksi pengeboman tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) lalu.

"Saya menyesal, saya sedih atas kejadian ini, tapi saya nggak kaget. Benihnya ini (radikalisme) sudah dipupuk sangat lama, sekarang kita panen raya saja," kata Faiz saat ditemui di Surabaya, Selasa (22/5).

Pria yang dikenal sebagai trainer cukup terkenal ini mengakui setelah status Facebooknya jadi viral, ia mendapat banyak komentar jelek. Namun Faiz tak gentar. Ia mendapat dukungan dari orang-orang yang sempat jadi mentor Dita saat SMA.

Orang-orang itu saat ini sudah bertobat. "Kok saya berani cerita banyak? Karena saya berteman dekat dengan beberapa orang yang berada di lingkaran pertama Dita, mentor ideologisnya," kata Faiz.

Dita mengebom Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, di Jl Arjuna, menggunakan bom mobil. Istri dan dua anak perempuan Dita beraksi di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jl Diponegoro Surabaya. Sedangkan dua anak laki-laki Dita melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak bercela, Jl Ngagel Madya, Surabaya.

Faiz tidak heran teman dekat dan teman sekelas Dita membanjiri kolom komentar status Facebooknya. Mereka bilang Dita itu baik, suka bersedekah, figur ayah yang baik, setia kawan, dan masih banyak kebaikan lainnya.

Faiz tidak membantah apa yang teman-teman Dita sampaikan. "Yang perlu orang-orang sadari, kenal Dita atau orang-orang seperti ini, kenalnya sejauh mana? Tetangganya saja tidak tahu. Ibunya juga nggak tahu, begitu pula teman-teman di pengajian. Siapa yang tahu? Ya yang mengkader Dita, mentornya," ungkap Faiz.

Menurutnya, orang-orang seperti Dita tidak akan berbagi (sharing) kepada semua orang. "Saya tahu dia dari orang-orang yang pernah jadi mentor Dita saat itu. Saya berteman baik dengan para mentor itu, bahkan sampai mereka bertobat sekarang," tambah Faiz.

Pria berusia sekira 40 tahun itu mengaku mulai mengenal ideologi keras saat di bangku SMA. Faiz mengungkapkan saat SMA itu ideologinya masih pada tahap meyakini negara tidak benar, aturan yang dipakai bukan Islam. Saat itu, ideologinya hanya diyakini dalam hati saja, tidak memakai kekerasan.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved