Opini

Bulan Ramadan Pasar Ilang Ramene

Bulan Ramadan Pasar Ilang Ramene. Opini ditulis oleh Moh Sugihariyadi, Sekretaris Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia

Bulan Ramadan Pasar Ilang Ramene
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Bulan Ramadan Pasar Ilang Ramene. Opini ditulis oleh Moh Sugihariyadi, Sekretaris Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia 

Opini ditulis oleh Moh Sugihariyadi, Sekretaris Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia dan anggota Dewan Pendidikan di Kabupaten Rembang

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Setiap masuk bulan Ramadan para pedagang pasar tradisional raut mukanya pada sumringah bahagia, utamanya para pedagang pasar tradisional di Rembang. Ekspresi ini sangat wajar, karena pada momentum Ramadan biasanya dagangan mereka (para pedagang) di pasar sangat ramai dipadati pembeli. Ungkapan kebahagiaan mereka sangat wajar mudah untuk kita tebak, karena hampir sekitar sebelas (11) bulan mereka berjibaku dengan barang dagangan di pasar dan tak kunjung memperoleh hasil maksimal. Penyebabnya tentu karena tidak ada pembeli yang datang ke pasar alias sepi atau keadaan pasar ilang ramene.

Di bulan Ramadan saat profesi lain pada berkesempatan menambah waktu istirahat, karena alasan agar ada tambahan melakukan aktivitas tadarusan sampai dengan mempersiapkan menu buka bersama dengan keluarga. Tidak mungkin bisa memperoleh hal serupa bagi para pedagang pasar, sebab pada waktu-waktu seperti ini bagi mereka adalah waktu-waktu istimewa untuk mendapatkan rejeki dari pasar lebih baik, keyakinan mereka memaknai keberuntungan bulan Ramadhan.

Suasana selama 11 bulan yang ditunggu oleh pedagang pasar kota Rembang sekarang sirna alias lenyap tanpa bekas, sebab selama lima tahun terakhir setiap masuk bulan Ramadan keramaian selama ini sudah tidak mereka bisa nikmati lagi. Karena pasar tradisional di Rembang yang selama ini kita pahami tempat bertemunya pihak penjual dan pembeli sudah tidak seramai dahulu lagi. Kira-kira faktor pemicu penyebab kegiatan perdagangan di pasar Rembang menjadi sepi apa ya? Pertanyaan yang saya rasa jawabannya sudah pada diketahui oleh warga masyarakat kota Rembang, namun sangat susah untuk disampaikan

Bagi masyarakat Rembang, pasar dipahami selama ini yaitu salah satu sarana publik yang paling relevan untuk menggantungkan hajat hidup bagi banyak orang. Sudah demikian lama orang menggantungkan mata pencaharian dari profesi berdagang, selain itu juga ada cara-cara menggantungkan hidup di pasar dengan bekerja pada orang lain atau sebagai pelayan termasuk pula menjadi juru parkir. Tak memungkiri juga ada jasa pengiriman barang yang dilakukan oleh para kuli panggul.

Menyimak keadaan interaksi yang demikian, penulis berkesimpulan secara garis besar pasar tradisional di Rembang memang merupakan tempat yang sangat vital karena kemampuannya menyerap tenaga kerja dan juga bisa diperankan sebagai tempat masyarakat mencari penghasilan tanpa perlu keahlian khusus.

Bulan Ramadan sekarang ini pasar tradisional di Rembang sangat minim minat dari masyarakat, utamanya bagian-bagian pasar yang berjualan pakaian. Setelah coba kita cari tahu, sumber penyebabnya setiap tahun pihak pemerintah daerah Kabupaten Rembang memberi kesempatan bazar kepada mall-mall besar, semisal matahari dan ramayana di tempat relatif strategis yaitu gedung Balai Kartini dan Balai Manunggal milik kodim 0720 Rembang. Sulit lagi terpahami oleh para pedagang pasar tradisional di Rembang, para pihak pengelola mall matahari dan ramayana melakukan marketing dengan cara memberikan diskon hingga angka 70%, sesuatu yang muatahil dilaksanakan dalam perspektif usaha mencari untung dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat agama atau cara-cara berdagang tradisional.

Manfaat Pasar Tradisioanal

Terlepas dari asumsi orang mengatakan pasar tradisional di Rembang kumuh, becek, dan kurang nyaman, namun faedah manfaat pasar tradisional sangat terasa. Pertama, dari masyarakat untuk masyarakat. Sejauh yang kita ketahui pasar tradisional faktanya hampir 100 persen pengelolaan mulai perdagangan sampai dengan hal-hal kecil lain pemiliknya merupakan anggota masyarakat yang masih tinggal dilingkungan sekitar pasar.

Jadi suasana belanja di pasar tradisional Rembang secara langsung maupun tidak langsung sangat membantu menjadikan daerah memiliki penghasilan. Mengutip istilah Atna Tukiman dalam Forum Rembug Rembang beberapa bulan lalu, jika Rembang berharap ingin sejajar dengan daerah-daerah tetangga, masyarakatnya harus menghargai dan menghormati kreatifitas warganya. Dengan kondisi semacam ini tentu sangat susah untuk menjawabnya, karena masyarakat bisa tumbuh perasaan menghargai tetangga, jika pemerintah daerahnya memberi contoh terlebih dahulu.

Kedua, terdapat budaya tawar menawar. Praktik jual beli di pasar pihak pembeli mempunyai kebebasan untuk mencari produk sebagus-bagusnya dengan harga termurah. Dari hal inilah dimungkinkan terjadi budaya tawar menawar barang sudah menjadi tradisi sejak jaman dahulu kala. Karena salah satu tempat penyediaan barang yang bisa ditawar hanya ada di pasar. Keuntungan masyarakat banyak kesempatan memilih, sesuai kemampuan keuangan yang dimiliki.

Ketiga, membentuk pribadi mandiri masyarakat. Selama ini orang menggunakan kekayaannya untuk membeli produk-produk di mall selalu melihat harga diskon dengan tulisan besar 50 persen di tambah 20 persen atau diskon 70 persen langsung dan seterusnya. Padahal keadaan demikian jika kita cermati harga yang ditawarkan sebenarnya jauh lebih mahal. Sebab sebelum keputusan diskon barang rencana mau dijual harga sudah dinaikkan beberapa kali lipat. Tidak percaya silahkan masyarakat melakukan perhatian, perhitungan, dan bandingkan sendiri.

Solusi

Sebelum para pedagang Rembang bangkrut, sehingga berujung memutuskan berhenti berjualan. Ujung-unjungnya semakin menebalkan prosentase angka pengangguran dan kemiskinan daerah Rembang. Seyogyanya pemerintah daerah segera melakukan tindakan untuk mengatasi persoalan penyebab pasar tradisional di Rembang menjadi sepi.

Sekedar menjelaskan keluhan warga sekitar pasar di Rembang, sepinya pembelian merupakan problem yang banyak dikeluhkan padagang pasar. Jika ada arahan menyebut bahwa persoalan penyebab adalah infrastruktur jelas ini sangat salah. Problem penyebab sepinya pasar tradisional adalah sepi pembeli. Kondisi ini dimulai semenjak maraknya pasar modern atau swalayan semisal mall matahari dan ramayana hadir setiap masuk bulan Ramdhan di kota Rembang. Oleh karenanya jika berharap pemerintah dan warga inginkan pasar Rembang tidak kehilangan ramene maka harus ada aturan secara tegas yang isinya membela keberadaan pedagang pasar tradisional agar bisa memperoleh untung di bulan Ramadan. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved