‎Ferry Firmawan: 20 Tahun Berlalu, Spirit Reformasi '98 Terus Bergelora dan Diperjuangkan

‎"Kini, sudah 20 tahun berlalu, tetapi spirit reformasi masih terus bergelora dan diperjuangkan lewat berbagai kebijakan‎," kata Ferry

‎Ferry Firmawan: 20 Tahun Berlalu, Spirit Reformasi '98 Terus Bergelora dan Diperjuangkan
Istimewa
Ferry Firmawan bersama sejumah mantan aktivis '98 menggelar buka bersama, mengenang 20 tahun reformasi. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Reformasi yang digelorakan hampir seluruh elemen bangsa, -utamanya mahasiswa yang berada di garda depan-, pada 1998, telah 20 tahun berlalu. Hingga kini, gelora semangat reformasi belum padam, dan terus akan diperjuangkan.

Demikian disampaikan oleh Ferry Firmawan, mantan Presiden Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), yang turut turun jalan saat gelora feromasi '98.

‎"Kini, sudah 20 tahun berlalu, tetapi spirit reformasi masih terus bergelora dan diperjuangkan lewat berbagai kebijakan‎," kata Ferry, melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun Jateng, Rabu (23/5).

Menurut Ferry, yang saat ini duduk sebagai anggota DPRD Jateng, reformasi bukan hanya simbol yang selesai dan purna, usai kekuasaan Orde Baru tumbang pada 1998. Melainkan, spirit bagaimana mewujudkan pemerintahan yang bersih dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, yang harus tetap dijaga hingga kini.

"Spirit reformasi ini harus terus dijaga sebagai bekal memperbaiki kesejahteraan dan kebesaran NKRI," ucapnya.

Karena itu, ia juga mengajak agar mahasiswa tak hanya berkutat pada dunia akademis, tetapi juga organisasi kampus. Karena di situlah, pengalaman dan gemblengan mental didapatkan, sehingga peran mahasiswa sebagai agen of change benar-benar terwujud.

"Skill atau keahlian khusus harus dimiliki agar bisa terus bersaing di era modernisasi," tuturnya.

Menurutnya Indonesia saat ini didera ancaman intoleransi dan radikalisme. Permasalahan tersebut, kata Ferry, tidak cukup diselesaikan hanya dengan penegakan hukum namun juga harus memperhatikan aspek sosial.

"Tidak cukup hanya akademik, tapi harus dilengkapi kepekaan sosial. Perlu spirit nasionalisme dan spirit leadership-entrepreneurship," tandasnya.‎

Demi tetap menggelorakan semangat reformasi itu, Ferry bersama para mantan aktivis '98 menggelar buka bersama, kemarin, Selasa (22/5). Turut hadir dalam kesempatan itu, beberapa pimpinan organisasi kepemudaan (OKP), Ormas, tokoh pergerakan Ardas Patra (Undip/Praktisi Ekonomi Pembangunan), Bambang Eko P (Untag/Ketum Pemuda Pancasila Jawa Tengah), Nanang S Darmadi (Unissula/Dosen & Konsultan Hukum), Wahyu Kristianto (Unika/Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Jateng), dan lainnya.

‎"Di Simpang Lima, seluruh mahasiswa dari Jateng berkumpul. Di depan Masjid Raya Baiturrahman didirikan panggung besar untuk orasi. Mereka tidak memandang suku ras agama atau perbedaan. Yang ada bagaimana bisa menciptakan pemerintahan yang bebas KKN," ucapnya, mengenang aksi demonstrasi pada 1998. (*)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved