Breaking News:

Ratusan Orang Diduga Tertipu Hingga Rp 5 Miliar oleh Pengembang Perumahan di Mijen Semarang

Puluhan orang mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, pada Sabtu (26/5/2018) lalu.

Penulis: rival al manaf | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/RIVAL ALMANAF
Salah satu korban penggelapan uang muka perumahan Rizki Kurniadi menunjukan surat laporannya di depan SPKT Polrestabes Semarang, Sabtu (26/5). 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Puluhan orang mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, pada Sabtu (26/5/2018) lalu.

Kedatangan mereka adalah untuk melaporkan dugaan penggelapan yang dilakukan Direktur PT Kaila Asri Sejahtera sebuah perusahaan pengembangan perumahan.

Dipimpin salah satu korban, Rizki Kurniadi, mereka berniat melaporkan penggelapan yang mengkorbankan uang milik ratusan orang yang sudah terlanjur membayar uang muka perumahan yang rencananya dikembangkan PT Kaila.

Hanya saja, langkah pelaporan tersebut gagal, lantaran sebelumnya mereka sudah melaporkan hal yang sama ke Polda Jateng.

Polisi pun mengimbau untuk menanyakan proses penanganan kasus tersebut karena memang sudah ditangani.

"Ya kami hari ini jadinya menanyakan kelanjutan penanganan, dan rencananya polisi akan memanggil para terlapor untuk dimintai keterangan minggu depan," terang Rizki Kurniadi.

Ia memaparkan peristiwa bermula saat tahun lalu beberapa orang melakukan pembayaran uang muka untuk perumahan di Kecamatan Mijen Semarang pada Bulan Mei.

Perumahan yang dikembangkan PT Kaila Asri Sejahtera tersebut saat itu memang masih berbentuk tanah lapang yang belum tampak satu bangunan pun.

"Saya baca iklannya dari internet lalu kemudian kontak dengan marketingnya disebut bahwa perumahan itu bekerjasama dengan pemerintah dan merupakan rumah subsidi jadi saya tertarik," terang Rizki.

Ia pun diminta membayar uang muka sebesar Rp 40 juta dengan estimasi kredit per bulan Rp 1,2 juta selama dua puluh tahun. Pria yang merantau ke Semarang itupun bersedia.

Namun malang hingga akhir tahun 2017 perumahan tidak kunjung dibangun. Padahal uang muka yang ia bayarkan sudah mencapai Rp 32 juta.

"Ternyata korbannya bukan hanya saya ada kira-kira 100 orang lebih yang mengalami nasib serupa, makanya kita berkumpul saat itu datang bersama-sama ke kantor pengembang di Lamper Tengah untuk menanyakan kejelasan pembangunan perumahan," terangnya lebih lanjut.

Ia merinci dari total ratusan korban tersebut kerugian mencapai angka Rp 4-5 milyar.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved