Masjid 17, Saksi Sejarah Perjalanan Pendidikan Muhammadiyah di Banyumas

Sekilas, bangunan masjid 17 di Jalan Dr Angka Kelurahan Sokanegara Purwokerto Timur ini, tak ubahnya masjid modern pada umumnya.

Masjid 17, Saksi Sejarah Perjalanan Pendidikan Muhammadiyah di Banyumas
Tribun Jateng/Khoirul Muzakki
Masjid 17 di Jl Dr Angka Sokanegara Purwokerto Timur Banyumas 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Umumnya masjid dinamai menggunakan istilah Bahasa Arab. Tetapi masjid di Kelurahan Sokanegara Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, justru dinamai dengan angka latin, 17.

Tentu ada alasan khusus sehingga nomor itu begitu penting bagi pendirinya.

Sekilas, bangunan masjid 17 di Jalan Dr Angka Kelurahan Sokanegara Purwokerto Timur ini, tak ubahnya masjid modern pada umumnya.

Tampak depan, masjid yang dibangun tahun 2013 dan diresmikan tahun 2015 itu terlihat megah dengan arsitektur khas Timur Tengah.

Ruang utama masjid berada di lantai dua. Untuk mencapai ruang utama, pengunjung harus menapaki tangga cukup tinggi.

Di sini, keunikan mulai terlihat. Jumlah anak tangga sesuai nama masjid, sebanyak 17 buah.

"Tangganya ada 17, sesuai dengan nama masjidnya,"kata Mihrodin, takmir masjid 17 Purwokerto, Senin (28/5).

Masjid 17 sebetulnya bukanlah masjid baru. Tahun 1956, saat kota Purwokerto belum begitu ramai, masjid itu mula didirikan.

17 tokoh yang punya visi sama tentang kemaslahatan umat menggagas pembangunan masjid ini hingga berhasil didirikan.

Di antara tokoh penting dalam pendirian masjid 17 ini adalah KH Abu Dardiri, tokoh sentral Muhammadiyah di eks Karesidenan Banyumas kala itu.

Kiprah KH Abu Dardiri bagi umat Islam di tingkat nasional pun tak diragukan.

Ia salah satu pengagas pendirian Kementerian Agama (Kemenag), kementerian yang dianggap penting untuk mengakomodasi persoalan umat Islam di Indonesia pada era pemerintahan Presiden Soekarno kala itu.

Selain Abu Dardiri, tokoh lain yang punya peran vital dalam pembangunan masjid 17 adalah Suwarno, lurah Sokanegara waktu itu.

Para tokoh ini mengawali pendirian masjid 17 dengan modal Rp 17 ribu.
Tentu angka itu tidaklah sedikit di zaman tersebut.

Dari jerih payah para tokoh ini, sebuah masjid berarsitektur Jawa atau Joglo akhirnya berhasil dibangun. Angka 17 kembali muncul dari jumlah jendela masjid yang terhitung sebanyak 17 buah.

"Digagas 17 tokoh, modal awal Rp 17 ribu dan jumlah jendela 17, makanya disebut masjid 17,"katanya

Di komplek masjid tersebut, sebuah pondok pesantren Muhammadiyah sudah lebih dulu berdiri.

Keberadaan masjid di komplek pesantren sekaligus mendukung kegiatan santri dalam menimba ilmu agama.

Dengan didukung keberadaan pesantren, masjid 17 sempat jadi pusat kajian agama Islam bagi warga Muhammadiyah di Banyumas dan sekitarnya. Masjid itu sekaligus jadi pusat pengkaderan anggota Muhammadiyah.

Meski bangunan lama sudah rata dengan tanah, masjid 17 tetap jadi saksi sejarah perkembangan usaha pendidikan Muhammadiyah di Purwokerto.

Seiring perubahan zaman, pesantren Muhammadiyah kemudian bertransformasi menjadi sekolah-sekolah modern Muhammadiyah, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Belakangan, sekitar tahun 1965, Muhammadiyah mendirikan perguruan tinggi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah untuk mencetak sarjana pendidikan di komplek tersebut.

"Dulu IKIP Muhammadiyah juga di sini. Kalau pagi untuk sekolah, kalau sore untuk kuliah,"katanya.

Sebagian bangunan pesantren, kata Mihrodin, masih terjaga keasliannya dan beralih fungsi menjadi SMA 1 Muhamadiyah Purwokerto.

Amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan terus berkembang. Sekolah-sekolah baru Muhammadiyah terus bertumbuh di seantero Banyumas.

IKIP Muhammadiyah pun mengalami kemajuan hingga beralih status menjadi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Pengelola kemudian mendirikan gedung baru kampus itu di Dukuhwaluh, Kembaran Purwokerto. UMP dalam perjalanannya berhasil menjadi pusat kajian keilmuan Muhammadiyah di Banyumas.

Muhammadiyah juga berhasil mendirikan Gedung Dakwah Muhammadiyah di Jalan Gerilya Purwokerto Selatan yang jadi pusat pengkaderan anggota Muhammadiyah.

"Sekarang sudah ada UMP, gedung dakwah, jadi pusat kajian dan pengkaderan kini menyebar,"katanya

Angka 17 bertambah sakral karena bertepatan dengan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia maupun umat Islam. Negara ini merdeka dari penjajahan kolonial pada 17 Agustus 1945.

17 Ramadan adalah hari penting umat Islam karena menjadi tanggal turunnya kitab suci Al Quran. Jumlah bilangan rakaat salat lima waktu yang menjadi bagian dari rukun Islam juga sejumlah 17 rakaat.

Tak ayal, para pendiri masjid 17 punya alasan kuat untuk menyematkan angka ganjil itu sebagai nama masjid, Masjid 17.

Penulis: khoirul muzaki
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved