Opini

Best Practices dan Mutu Pendidikan

Best Practices dan Mutu Pendidikan. Opini ditulis oleh Heri Kristantoro, S.Pd,M.Pd/Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kab. Semarang

Best Practices dan Mutu Pendidikan
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Opini ditulis oleh Heri Kristantoro, S.Pd,M.Pd/Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kab. Semarang 

Opini ditulis oleh Heri Kristantoro, S.Pd,M.Pd/Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kab. Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Setiap tahun pemerintah melalui Kemendikbud subdit kesejahteraan, penghargaan dan perlindungan guru (Kesharlindung) melaksanakan lomba Best Practice tingkat nasional bagi kepala sekolah, pengawas dan widyaiswara. Pada tahun 2018 ini dilaksanakan pada tanggal 4 sampai dengan 8 Mei, yang mengunggah sebanyak 600 karya, namun yang lolos sebanyak 163 orang.

Penilaian lomba Best Practice Nasional untuk kepala sekolah, pengawas dan widyaiswara meliputi empat tahap, yaitu seleksi administratif, uji similiaritas, penilaian substansi dan penilaian presentasi. Seleksi administratif meliputi pengisian biodata secara online, mengunggah karya dalam program word, serta mengunggah video dalam durasi 3 menit yang terkait konten best practice dan testimoni dari pengawas sekolah, komite sekolah, guru dan siswa.

Pada tahun 2018 diterapkan batas uji similiaritas/kesamaan tidak lebih dari 30%. Pada tahun 2019, direncanakan uji similiaritasnya ditingkatkan, yakni tidak lebih dari 25%. Apabila naskah memiliki similiaritas lebih dari 30% dan kontennya tidak sesuai dengan tupoksi, maka peserta akan dinyatakan tidak lolos pada tahap berikutnya. Ini artinya peserta tidak akan dipanggil dalam ajang lomba best practices tingkat nasional yang dilaksanakan di Jakarta.

Penilaian substansi karya meliputi APIK (asli, perlu, ilmiah dan konsisten). Asli artinya indikator keberhasilan harus jelas, ada unsur kebaruan, dukungan data akurat, waktu pelaksanaan wajar dan fokus pada tupoksi. Penting artinya mampu untuk meningkatkan kinerja, relevan dengan tupoksi, dampaknya terkait dengan mutu sekolah dan mudah ditiru oleh sekolah lainnya.

Ilmiah artinya menyajikan langkah-langkah best practices yang logis dan sistematis, data/fakta sebelum dan sesudah jelas, alasan pelaksanaan best practices sesuai permasalahan, kesimpulan menjawab pertanyaan, serta kemutakhiran referensi/pustaka. Konsisten artinya alur berpikir disajikan secara runtut, tata tulis sesuai PUEBI, sistematika laporan sesuai, kesesuaian kutipan dan referensi, lay out menarik dan mudah dibaca. Esensi dari best practices adalah problem penting dan solusi inovatif. Problem merupakan masalah yang memiliki urgensi tinggi/prioritas utama dan mendesak untuk dipecahkan.

Pengalaman Terbaik

Setiap sekolah pasti memiliki berbagai macam pengalaman keberhasilan dalam mengatasi berbagai masalah. Namun kebanyakan mengalami kelemahan dalam pendokumentasian. Pengalaman terbaik itu perlu dituangkan dalam karya best practices. Best practices digunakan untuk mendeskripsikan atau menguraikan pengalaman terbaik dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam melaksanakan tugasnya. Best practices kepala sekolah meliputi kompetensi manajerial, supervisi dan kewirausahaan. Berbagai pengalaman terbaik kepala sekolah dapat ditulis menjadi sebuah karya yang dapat menginspirasi sekolah yang lain.

Setelah tahap seleksi administrasi, uji similiaritas dan penilaian konten sesuai, maka peserta dinyatakan lolos dan dipanggil ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan karyanya melalui presentasi dalam waktu 15 menit. Delapan menit presentasi dan tujuh menit tanya-jawab oleh dua dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.

Penilaian presentasi meliputi keruntutan/kejelasan penyajian, penguasaan isi materi, metode/alat bantu, penalaran dan ketepatan menjawab, sikap peserta dan ketepatan waktu. Meskipun karya sendiri, apabila banyak mengutipnya termasuk plagiasi.

Obyek kajian harus sesuai dengan tupoksi masing-masing. Pemakaian judul yang berbau akronim tidak dianjurkan. Kajian best practices didominasi oleh 80% materi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), 10% gerakan literasi sekolah, dan 10% manajemen mutu. Referensi ilmiah sangat diperlukan untuk menguatkan solusi/pemecahan masalah.

Tidak perlu judul yang aneh-aneh. Kegiatan terencana, prosesnya nyata, bukti mendukung, dan tidak mutlak dilakukan secara perorangan. Cirikhas karya best practices ada lima, yaitu solusi inovatif/cara baru, perubahan luar biasa/outstanding, solusi berkelanjutan/lestari, dapat menjadi model, serta cara dan metode ekonomis dan efisien.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan ini. Pengalaman terbaik yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas dan widyaiswara dari berbagai penjuru tanah air dapat disebarluaskan dalam bentuk buku best practices series yang dikemas dalam tulisan ilmiah populer agar dapat menjadi model sekolah lain sehingga dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan nasional. Buku best practices series dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti, lugas, serta terbaca sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk mempublikasikan karya ilmiah populer kepada masyarakat. Semoga. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved