11.688 Petugas Amankan Waisak di Borobudur

Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi kirab atau arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, Selasa (29/5).

11.688 Petugas Amankan Waisak di Borobudur
Antara
Anggota Gegana Brimob Polda Jawa Tengah berjaga di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selesa (29/5/2018). Penjagaan oleh sejumlah anggota Gegana tersebut untuk menjamin keamanan dan kenyamanan umat Buddha saat perayaan Tri Suci Waisak 2562BE/2018. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah) 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Sebanyak 1.688 petugas gabungan dari Kepolisian dan juga TNI diturunkan untuk mengamankan perayaan Hari Raya Waisak Nasional Umat Buddha Indonesia 2562 BE/2018 yang berlangsung pada 25-29 Mei 2018.

Kepala Polisi Resort Magelang, AKBP Hari Purnomo, mengatakan, dalam rangka melaksanakan kegiatan pengamanan rangkaian Waisak, pihaknya melibatkan petugas gabungan sebanyak 1.688 orang terdiri dari 1.281 anggota polisi dan 402 anggota TNI.

Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi kirab atau arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, Selasa (29/5). Kirab ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak 2562 BE/2018.

Peserta kirab terdiri dari Bhiksu, Bhiksuni, dan segenap umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia, juga diikuti umat Buddha dari berbagai negara. Umat Buddha berjalan sejauh 3-4 kilometer dari Candi Mendut hingga ke Candi Borobudur sembari mengumandangkan puja bakti.

Arak-arakan berjalan meriah, dimulai rombongan para Bhiksu dengan mengendarai kendaraan berbentuk bahtera. Mereka yang menyipratkan air suci kepada seluruh peserta dan masyarakat yang menonton di sepanjang jalan.

Kemudian puluhan Bhiksu mengikut di belakangnya. Umat Buddha mengumandangkan doa dan puji-pujian. Disusul penampilan drum band dan atraksi budaya. Api alam dari Merapen-Grobogan dan air berkah dari Umbul Jumprit diarak menuju Candi Borobudur.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Siti Hartati Murdaya mengatakan, kirab ini mengandung arti penting. Di mana umat melakukan meditasi bersama-sama dengan cara berjalan kaki.

Mereka bermeditasi sambil berjalan sehingga dapat melatih kesadaran. Alhasil pikiran menjadi tenang dan seimbang, tanpa terganggu apa yang terjadi di luar baik fisik maupun pikiran. Hal itu yang menjadi sifat alami Buddha. "Dengan menguasai diri dan fokus terhadap keheningan dalam kesadaran, manusia menjadi lebih tenang. Tidak terganggu oleh apa yang terjadi di luar, baik pikiran maupun fisik," kata Hartati.

Dia mengatakan, ketika manusia lupa mereka menjadi tidak sadar dan melakukan banyak kekeliruan. Akibatnya, manusia menjadi penuh dengan angkara murka dan memicu bencana. "Untuk itu, manusia harus kembali kepada dirinya yang sejati," kata Hartati.

Sebelum arak-arakan dilaksanakan, kebaktian Suranggama Mantra, Sutera Pertobatan 88 Buddha dan San Pu Yi Pai dipimpin oleh Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira dilakukan di Zona 1 Candi Borobudur. Lalu dilakukan Pembacaan Paritta Suci di Candi Mendut. Lalu segenap umat mengikuti prosesi kirab. (rfk/tribunjogja/Tribun Jateng/Cetak)

Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved