Waisak 2018

Di Pelataran Candi Borobudur, Menag Tegaskan Pentingnya Moderasi Beragama

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menegaskan akan pentingnya moderasi dalam beragama

Di Pelataran Candi Borobudur, Menag Tegaskan Pentingnya Moderasi Beragama
ANTARA FOTO/HENDRA NURDIYANSYAH
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan saat pembukaan perayaan Tri Suci Waisak 2562BE di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (29/5/2018). Dalam sambutan tersebut Menag Lukman Hakim menyampaikan agar seluruh umat agama di Indonesia hidup damai dan berbahagia. 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menegaskan akan pentingnya moderasi dalam beragama. Moderasi artinya agama tidak boleh dibawa pada pemahaman dan bentuk pengamalan ekstrem.

Hal itu disampaikan Lukman dalam sambutan dihadapan ribuan umat Buddha pada peringatan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (29/5/2018).

"Saya ingin menegaskan akan pentingnya moderasi dalam beragama. Kita harus meneguhkan itu, yang artinya bahwa agama tidak boleh dibawa dalam pemahaman dan bentuk pengamalan yang ekstrim," tegasnya.

Lukman menjelaskan bahwa agama merupakan sumber nilai-nilai luhur. Setiap umat wajib mengembalikan semua bentuk pemahaman dan pengamalan keaagaman dalam sisi-sisi moderat.

Moderasi agama, lanjutnya, dapat menjadi jawaban atas tema Waisak tahun ini, yakni "Transformasikan Kesadaram Delusi Menjadi Kesadaran Murni, Marilah Bersama Berjuang Mengalahkan Ego",

"Melalui moderasi agama dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi, sehingga ego dalam diri dapat terkikis. Kesadaran tertinggi itu adalah menyadari keberadaan Tuhan," tutur Lukman.

Menurutnya, dengan kesadaraan akan keberadaan Tuhan, maka semua umat dapat bangkit dari keterpurukan moral dan spriritual, untuk menjadi manusia-manusia yang berkarakter mulai.

Selanjutnya tugas umat adalah memadukan semua potensi masyarakat dan menanamkan nilai-nilai religiusitas melalui pranata sosial dengan berbagai pendekatan multi kultural, seperti kegiatan keagamaan, pemberdayaan dana sosial keagamaan, pemberdayaan ekonomi umat, dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

"Menampilkan sosok yang moderat sesungguhnya jauh lebih terpuji, ketimbang menampilakn citra yang indah dipandang dan memukau masyarakat.

Teladani Buddha yang meninggalkan tahta, memilih hidup sederhana demi kebahagiaan kebahagian semua makhluk," paparnya.

Halaman
12
Editor: m nur huda
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved