FOCUS

Jangan Hanya Salahkan Penumpang

Menurut catatan, dalam bulan ini saja (Mei) kasus candaan penumpang soal adanya bom di dalam pesawat sudah sembilan kali terjadi.

Jangan Hanya Salahkan Penumpang
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardian wartawan Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus candaan penumpang pesawat yang berakhir ke jalur hukum terus saja muncul. Menurut catatan, dalam bulan ini saja (Mei) kasus candaan penumpang soal adanya bom di dalam pesawat sudah sembilan kali terjadi.

Namun apa yang terjadi di dalam pesawat Lion Air di bandara Internasional Supadio, Pontianak Senin (28/5), tergolong paling fatal. 10 orang terluka akibat penumpang bernama Frantinus Nirigi bercanda dengan pramugari. Saat Pramugari menanyakan tas yang berada di lantai pesawat, Frantinus mengatakan tas itu miliknya. Sambil tersenyum Frantinus mengatakan kalau tas itu berisi bom.

Apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar kendali dan perkiraan Frantinus. Pramugari langsung menghubungi pilot, kemudian sesuai standar prosedur, pramugari mengumumkan kepada penumpang agar keluar pesawat. Proses take off ditunda. Entah apa yang terjadi di dalam kabin, berikutnya penumpang panik dan berebut keluar pesawat. Beberapa penumpang membuka pintu darurat.

Setelah keluar dari pintu darurat, penumpang nekat melompat dari sayap pesawat yang tingginya sekitar 2 meter dari tanah. 10 orang terluka dan dibawa ke rumah sakit. Proses hukum terhadap Frantinus kemudian berlanjut. Mahasiswa asal Papua itu kini mendekam di dalam ruang tahanan polisi. Mahasiswa lulusan Universitas Tanjungpura tersebut dijerat dengan UU Penerbangan dan terancam hukuman maksimal delapan tahun penjara.

Kini semua pihak hingga kementerian perhubungan ramai-ramai mengecam ulah Frantinus yang memicu keributan di dalam pesawat. Mereka menuntut hukuman setimpal untuk Frantinus. Di sisi lain, pihak Frantinus melalui pengacaranya balik menyalahkan kru maskapai dalam hal ini pramugari.

Menurut pengacaranya, Frantinus bercanda ada bom di tasnya, setelah pramugari memasukkan tasnya ke kabin pesawat dengan cara kasar. Padahal di dalam tas ada tiga laptop. Pengacara berdalih Frantinus jengkel karena takut laptopnya rusak, sehingga terlontar perkataan ada bom di dalam tas.

Sesuai undang-undang penerbangan, apapun alasannya Frantinus tetap bersalah karena mengatakan ada bom di dalam pesawat. Meskipun itu bercanda, apa yang dilakukan Frantinus bisa berakibat fatal dan membahayakan nyawa orang lain.

Namun yang menjadi masalah selama ini, sering kali penumpang belum tahu konsekuensi hukum yang didapat atas apa yang dilakukannya. Sosialisasi mengenai hukuman pidana untuk pelaku candaan bom serasa kurang maksimal.

Adilkah jika seseorang dihukum kalau dia tak tahu apa yang dilakukannya salah? Apalagi bagi sebagian orang bercanda soal bom adalah hal biasa dilakukan dimana saja.

Mungkin perlu langkah konkret agar peristiwa seperti itu tak terjadi lagi, misalnya dengan memberikan pengumuman di dalam kabin pesawat bahwa candaan bom tidak diperkenankan dan diancam pidana.

Bukankah hal serupa sudah dilakukan, yakni ketika maskapai mengumumkan penumpang tak boleh membawa narkoba di dalam pesawat? Semoga tak ada lagi Frantinus lain. Sebagai pelaku tindak pidana, sebenarnya Frantinus juga korban ketidaktahuannya. (tribunjateng/cetak/ear)

Penulis: erwin adrian
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved