Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mudik Lebaran

Damar Tak Sabar Coba Jalan Tol Baru Semarang - Solo, Ini Yang Dia Persiapkan

Ia mengaku penasaran ingin melihat perkembangan proyek jalan tol Semarang-Solo, begitu pun sensasi ketika melaluinya.

Hermawan Handaka
Tol Colomadu menuju Sragen sepanjang 35 KM dari KM 492+800 sampai dengan 528+000 sudah siap di lalui pemudik lebaran yang akan menuju Sragen, Jawa Tengah maupun Ngawi, Jawa Timur, Rabu (30/5). Untuk Tol Colomadu-Sragen terdapat tiga Gerbang Tol yaitu GT Bandara, GT Purwodadi dan GT Karanganyar. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang warga Semarang, Carang Saring Damar Alam (27) yang pada Lebaran nanti berencana mudik menuju Solo mengaku tak sabar melalui jalur bebas hambatan Semarang-Solo.

Meski tahu bahwa saat Idulfitri nanti jalan tol Semarang-Solo baru dioperasionalkan fungsional, ia beserta keluarga tetap berencana melaluinya.

Ia mengaku penasaran ingin melihat perkembangan proyek jalan tol Semarang-Solo, begitu pun sensasi ketika melaluinya.

"Ingin cari suasana beda saja. Biasanya kan lewat jalur biasa, nanti ingin coba lewat tol," ujarnya, kepada Tribun Jateng, akhir pekan lalu.

Untuk mewujudkan niatnya melintasi tol itu, Damar menyatakan, bakal mempersiapkan bensin kemasan untuk mengantisipasi jika nanti di jalan tol terjadi kemacetan atau penumpukan kendaraan.

"Pasti nanti banyak (pemudik-Red) yang ingin lewat jalan tol. Jadi buat jaga-jaga saja kalau kehabisan bensin," tuturnya.

Adapun, memfungsikan jalan tol yang sejatinya secara struktur fisik belum sepenuhnya siap merupakan upaya pemerintah untuk membagi beban kendaraan dan arus lalu lintas yang luar biasa padat di jalan-jalan eksisting pada saat arus Lebaran.

"Saya kira, upaya pemerintah memfungsikan sementara tol (trans Jawa-Red) ini sangat kita hargai," kata pakar transportasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Bambang Pudjianto.

Menurut dia, mudik merupakan fenomena yang sangat luar biasa. Tak jarang orang rela melakukan apapun demi bisa mudik ke kampung halaman saat Hari Raya Idulfitri.

"Orang berbondong-bondong mudik, sehingga jumlah kendaraan dan daya tampung jalan yang ada tak sebanding. Bahkan, jalan kampung pun jika memungkinkan untuk sampai tujuan lebih cepat juga akan dilalui," ucapnya.

Bambang menuturkan, lantaran sejatinya tol ini belum siap sepenuhnya untuk digunakan, tentu ada konsekuensi-konsekuensi yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah soal struktur jalan yang masih jauh dari kata sempurna.

Dengan struktur jalan seperti itu, dia menambahkan, tentu akan menimbulkan banyak debu beterbatangan saat dilintasi kendaraan.

"Seyogyanya, jalur itu disirami guna meminimalisir timbulnya badai debu, seperti yang terjadi pada tahun lalu," paparnya.

Pertemuan arus

Selain itu, menurut dia, yang perlu menjadi perhatian khusus adalah simpul-simpul yang menjadi pertemuan arus lalu lintas kendaraan. Semisal, di jalur yang mempertemukan pintu keluar tol dengan jalan raya.

"Perlu ada perhatian khusus di sana, petugas harus lebih siap siaga di simpul-simpul tersebut," tuturnya.

Jika tak diantisipasi secara baik, Bambang menyatakan, simpul-simpul pertemuan arus lalu lintas kendaraan itu bisa menjadi sumbatan-sumbatan yang menimbulkan kemacetan parah. Sehingga, dapat berpotensi mengganggu kelancaran arus mudik secara keseluruhan.

"Simpul-simpul ini sekaligus bisa menjadi bahan evaluasi terkait dengan rekayasa lalu lintas pada saat arus mudik. Hasil evaluasi bisa menjadi bahan agar pada tahun depan rekayasa lalu lintas saat mudik bisa lebih baik lagi," ucapnya.

‎Selain untuk mengatur kepadatan arus lalu lintas, Bambang mengungkapkan, petugas lintas sektoral yang ditunjang dengan posko-posko, di simpul-simpul pertemuan arus, juga diperlukan guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, terutama bila terjadi di tengah tol fungsional.

Hal itu seperti kejadian pecah ban, kendaraan mogok, atau lain-lain. Antisipasi itu mengingat kondisi tol fungsional yang belum mempunyai fasilitas umum memadai.

"Mau istirahat saja agak susah, apalagi nanti jika terjadi mogok dan lain-lain. Keselamatan dan keamanan pengguna jalan perlu mendapat perhatian lebih, selain kelancaran arus lalu lintas," tandasnya.

Meski demikian, Bambang berujar, para pemudik tak jarang akan mencari keseimbangan sendiri. Hal itu misalnya dengan menyiasati jadwal perjalanan mudik-balik, agar tak berbarengan dengan mayoritas pemudik lain.

"Ini fenomena luar biasa. Tak jarang mereka pulang kampung jauh-jauh hari sebelumnya, dan balik belakangan, atau bahkan sudah balik saat arus mudik masih berlangsung," urainya.

Tak jarang pula, sambung dia, para pemudik pulang kampung saat arus mudik-balik telah mendekati usai. "Itu dilakukan agar mereka tetap bisa mudik dengan lancar dan nyaman," tukasnya. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved