113 Perusahaan di Kudus Dipastikan Semuanya Bayarkan THR ke Karyawan

Dari jumlah perusahaan 113 di Kudus, dipastikan tidak ada yang nakal alias tidak membayarkan THR.

113 Perusahaan di Kudus Dipastikan Semuanya Bayarkan THR ke Karyawan
Tribunjateng.com/Rifqi Gozali
Sejumlah buruh rokok PT Djarum brak jalan Loekmonohadi Kudus tengah menghitung uang THR, Selasa (5/6/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Menjelang lebaran, setiap perusahaan harus memenuhi hak berupa tunjangan hari raya (THR) kepada setiap buruhnya.

Tunjangan tersebut maksimal diserahkan oleh perusahaan H-7 lebaran.

Sementara di Kudus, sedikitnya terdapat 113 perusahaan yang harus memenuhi hak buruhnya berupa THR. Dari jumlah perusahaan sebanyak itu, dipastikan tidak ada yang nakal alias tidak membayarkan THR.

"Catatan kondisi perusahaannya sehat, maka dipastikan sampai batas maksimal pembayaran THR tidak ada yang tidak dibayarkan.

Semuanya akan dibayarkan sesuai aturan," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kudus Bambang Tri Waluyo melalui Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Perselidihan Tenaga Kerja Ansori saat ditemui di kantornya, Rabu (6/6/2018).

Ansori mengatakan, sebanyak 113 perusahaan itu merupakan perusahaan besar termasuk SPBU yang ada di Kabupaten Kudus.

Adapun nominal yang harus diterima oleh setiap buruh yang telah bekerja lebih dari 1 tahun yakni satu kali gaji sebesar Rp 1.892.500.

Sedangkan yang masa kerjanya di bawah satu tahun, minimal satu bulan, mendapatkan THR sesuai dengan hitungan proporsional.

Untuk mengantisipasi adanya keluhan buruh yang tidak menerima THR, pihaknya juga membuka posko pngaduan di Kantor Dinas Tenaga Kerja. Posko itu telah dibuka sehak awal Ramadan.

Sampai saat ini, kata dia, masih belum ada keluhan dari buruh perihal THR.

"Posko kami buka sampai jelang lebaran. Sampai saat ini masih belum ada keluhan dari karyawan atau buruh," katanya.

Tapi, tidak menutup kemungkinan di kudus terdapat perusahaan yang masih terganjal pemberianTHR kepada buruh. Hal itu disebabkan kondisi perusahaan yang sedang masuk tidak sehat keuangannya.

"Jadi perusahaan itu memang tidak sehat. Seudah sejak lama ada gejolak di internal karena keuangannya sedang memburuk," katanya.

Dia menyimpulkan, sehat atau tidaknya perusahaan bisa dilihat dari pemberian hak THR kepada buruh atau karyawannya.(*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved