Musim Kemarau

BPBD Purbalingga Imbau Masyarakat Waspada Kemarau, Ini Titik-titik Rawan Kekeringan

BPBD Purbalingga Imbau Masyarakat Waspada Kemarau, Ini Titik-titik Rawan Kekeringan, Juni 2018

BPBD Purbalingga Imbau Masyarakat Waspada Kemarau, Ini Titik-titik Rawan Kekeringan
tribunjateng/dok
ilustrasi musim kemarau 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga mengajak masyarakat di wilayah Purbalingga untuk waspada dalam menghadapi musim kemarau. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi ancaman bencana kekeringan di wilayah Purbalingga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Rusmo Purnomo mengatakan antisipasi yang dilakukan mendasari Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2018 Jawa Tengah, Tahun VIII No. 01 Maret 2018 dari Stasiun Klimatologi Semarang. Awal Musim Kemarau (AMK) di Kabupaten Purbalingga diprakirakan berlangsung pada bulan Juni dasarian I, dasarian II dan dasarian III.

“Awal Musim Kemarau Bulan Juni Dasarian I jatuh pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 dengan sebagian wilayah barat yang meliputi Kecamatan Padamara, Kecamatan Kutasari, Kecamatan Bojongsari, dan Kecamatan Mrebet,” kata Rusmo saat ditemui di Ruang Kerjanya, kemarin.

Pada Bulan Juni Dasarian II yang jatuh pada tanggal 11 sampai 20 kemarau akan terjadi di sebagaian wilayah barat yakni Kecamatan Kutasari, Kecamatan Bojongsari, Kecamatan Mrebet dan Kecamatan Karangreja. Sedangkan untuk Juni Dasarian III (tanggal 21-30, Red) akan terjadi di wilayah Kecamatan Kemangkon, Kecamatan Bukateja, Kecamatan Kejobong, Kecamatan Kaligondang,dan Kecamatan Purbalingga.

“Musim kemarau juga akan terjadi di wilayah Kecamatan Pengadegan, Kecamatan Rembang, Kecamatan Karangmoncol, Kecamatan Kertanegara, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Karangjambu dan Kecamatan Bobotsari,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan ada beberapa wilayah di Purbalingga yang dapat berpotensi menimbulkan ancaman bencana kekeringan atau kekurangan air. Baik air untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha pertanian.

“Kekeurangan air ini sebagian besar akan terjadi di wilayah Karangreja, Bojongsari dan Mrebet,” terang Rusmo.

Sebagai upaya mengantisipasi bahaya kekeringan, Rusmo mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat di berbagai kalangan untuk mengambil langkah antisipasi bencana kekeringan. Masyarakat diminta untuk hemat dan cermat dalam penggunaan air baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian.

“Kegunaan air untuk pertanian harus disesuaikan dnegan tata dan pola tanaman,” lanjutnya.

Para petani diimbau untuk menggunakan bibit tanaman yang berumur pendek, tahan kekurangan air dan tahan dari serangan hama. Kemudian membuat sumur pantek sebagai pengairan alternatif serta menggunakan air irigasi secara hemat dan cermat.

“Masyarakat khususnya para petani juga kami ajak untuk menanam selain padi seperti jagung, umbi, ketela pohon dan lain-lain,” ujar Rusmo.

Stok gabah atau beras di gudang, ia melanjutkan harus diatur dan dimonitoring secara efektif ketersediaan serta kelancaran distribusi bahan pangan pokok. Selain itu, masyarakat dan pedagang juga harus menjaga kebersihan dalam penyimpanan bahan makanan maupun makanan siap saji (jajan, Red).

“Utamanya ini untuk anak-anak SD atau SMP jangan jajan sembarang, jajan makanan yang higienis dan menyehatkan karena kalau musim kemarau kan debu-debu kotor lebih mudah menghinggapi makanan,” imbuhnya.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan Buang Air Besar (BAB) sembarangan dan penggalakan jambanisasi. Selanjutnya, masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian menggunakan sumber api, listrik serta menyiapkan tanda seperti menggunakan kenthonagan.

“Bagi yang mempunyai usaha di bidang perikanan atau peternakan, harus memilih jenis ikan dan ternak yang masa pemeliharaan lebih pendek sehingga bisa cepat panen serta relative hemat penggunaan air,” imbau Rusmo. (tribunjateng/humas pemkab purbalingga)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved