Ramadan 2018

Meski Dalam Keterbatasan, Anak-anak YPAC Tampak Khusyuk Melaksanakan Salat

Pertanyaan itu terjawab dalam kegiatan buka bersama dan salat tarawih siswa, guru, dan keluarga YPAC Semarang, Sabtu (9/6/2018).

Meski Dalam Keterbatasan, Anak-anak YPAC Tampak Khusyuk Melaksanakan Salat
TRIBUNJATENG/RIVAL/IST
bersama dan salat tarawih siswa, guru, dan keluarga Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang, Sabtu (10/6/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Buka bersama bagi sebagian orang mungkin adalah hal biasa, namun bagaimana untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Pertanyaan itu terjawab dalam kegiatan buka bersama dan salat tarawih siswa, guru, dan keluarga Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang, Sabtu (9/6/2018).

Bertempat di gedung serba guna mereka, di Jalan Kh Ahmad Dahlan Nomor 4, Pekunden, Semarang, puluhan anak berkebutuhan khusus menjalani buka bersama. Mereka bersantap bersama keluarga dan guru.

Setelah itu salat tarawih bersama juga dilaksanakan meski beberapa harus melaksanakan di kursi roda, atau hanya duduk di shaf.

"Mengapa kami gelar buka bersama dilanjutkan dengan tarawih bersama karena ingin menimbulkan kebersamaan mumpung bulan puasa kami ingin memupuk keimanan dan ketakwaan supaya mereka lebih sabar dalam melaksanakan tugas kesehariannya," terang ketua YPAC Semarang, Kastri Wahyuni saat ditemui Tribun Jateng.

Mantan kepala SMAN 1 Semarang itu menjelaskan kesabaran adalah hal yang paling penting dan harus dimiliki oleh guru di YPAC dan muridnya.

"Penting karena yang diampu adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), kalau tidak didasari dengan landasan iman dan takwa yang kuat, pasti akan ada kendala-kendala maka kita perlu mengadakan kegiatan keagamaan secara bersama sama itu tujuannya," terang Kastri.

Ia menjelaskan, untuk sekedar makan atau wudhu saja ABK harus memiliki usaha lebih dibandingkan dengan anak normal. Begitu juga dengan guru, Kastri yang pernah mengajar di sekolah umum tahu betul perbedaannya.

"Ibaratnya kalau siswa di sekolah umum disentuh saja sudah paham maksudnya, kalau di sini berbeda, kita harus benar-benar mendampingi satu per satu," tegasnya.

Oleh karena itu dengan kegiatan buka dan tarawih bersama ia berharap ABK tidak akan merasa sendirian. Setelah menjalani hal itu ia pun takjub dengan siswa-siswinya. Meski dalam keterbatasan, namun ia melihat muridnya tetap tampak khusyuk terutama saat salat tarawih bersama. (*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved