Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Debat Publik Kedua Cabup Kudus, Pembahasan Isu Keadilan Sosial Memanas

Debat terbagi atas lima segmen, dengan tiga segmen di tengah berlangsung panas.

Tayang:
TRIBUN JATENG/DWI LAYLA
Suasana menjelang debat publik kedua peserta Pilkada Kudus di Hotel Griptha, Selasa (19/6/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dwi Laylatur Rosyidah

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus menggelar debat terbuka publik yang kedua bagi calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Kudus, Selasa (19/6/2018).

Debat yang disiarkan langsung stasiun televisi swasta itu diselenggarakan di Hotel Griptha.

Empat pasangan calon kompak mengenakan pakaian berwana putih, kecuali paslon nomor urut 2 yang mengenakan batik.

Ketua KPU Kudus, Moh Khanafi, dalam sambutannya menuturkan isu berkaitan keadilan sosial menjadi topik debat kedua ini.

Debat terbagi atas lima segmen, dengan tiga segmen di tengah berlangsung panas.

Berbeda dari segmen pertama dan terakhir yang berisi masing-masing profil pengenalan dan pernyataan penutup.

Pada segmen ketiga, calon bupati diminta memilih pertanyaan dari perumus yang masih tertutup rapat.

Kemudian mengambil nomor dari pasangan lain sebagai pihak yang akan menimpali.

Masan-Noor Yasin, paslon nomor urut 1, mendapat pertanyaan mengenai program yang ditawarkan kepada masyarakat agar terwujud pemerintahan yang good governance di Kudus.

Pasangan nomor 5 yang menimpalinya.

“Untuk menjadi pemerintahan yang good governance, pemerintah ini wajib hukumnya sebagai penyelenggara pemerintahan untuk bisa menjadi contoh. Tentu sebagai perwujudan Kabupaten Kudus yang bersih dan bebas dari korupsi, ini penting. Pemimpin itu harus bisa menjadi suri tauladan. Saya tidak bisa membayangkan, kalau bupatinya korupsi, bagaimana anak buahnya?” ujar Masan.

Jawaban Masan yang menekankan kata korupsi itu disambut sorak-sorai para pendukung.

Tamzil, calon bupati nomor 5, dalam tanggapannya menyampaikan jawaban pasangan nomor 1 itu bentuk spontanitas saja.

Sebab, tidak muncul poin tersebut dalam program Masan-Noor Yasin.

Tamzil kemudian menyampaikan bahwa perlu perbaikan dalam program-program itu.

“Perlu saya sampaikan, harapan kita ke depan adalah bagaimana ke depan ASN ini kita angkat tanpa adanya beban. Baik itu jual beli jabatan dan tarif. Masyarakat umum saya kira sudah mengetahui semua,” tanggap Tamzil.

Sorak-sorai dari suporter kembali terdengar menyusul pernyataan Tamzil tersebut.

Masan segera menimpali bahwa dalam 9 tahun jabatannya sebagai wakil rakyat telah amanah.

Pasangan nomor 3, Sri Hartini-Setia Budi Wibawa, mendapat pertanyaan perumus tentang penegakan Perda No 15/2017 tentang Penanggulangan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan.

Bowo menuturkan bahwa kunci untuk masalah tersebut adalah perhatian.

“Kita sambangi mereka mengingat bahwa mereka sangat membutuhkan perhatian. Pemberdayaan terhadap usaha dan kemudahan akses karena mereka belum mendapat perhatian yang selayaknya. Sebanyak 75 persen dari mereka sudah berusaha ingin mentas, jadi perlu diberdayakan dengan program yang kontinyu,” tuturnya.

Pasangan Harjuna mendapat bagian untuk menjawab persoalan dalam bidang kesehatan.

Tentang peserta BPJS yang harus antre sejak pukul 03.00 WIB dan masih harus antre lagi untuk mendapatkan obat.

“Kami akan melakukan langkah-langkah lapangan apa yang harus sudah dipastikan. Kami juga akan menggunakan 70 persen pantauan lapangan dan mengecek masalah dengan sebenarnya. Kemudian bersinergi antar lembaga untuk melayani kepada masyarakat semuanya,” ujar Noor Hatoyo menjawab pertanyaan dari perumus.

Adapun pasangan Tamzil dan Hartopo mendapat pertanyaan mengenai bidang pertanian.

Beberapa masalah di bidang ini adalah lahan tidur dan alih fungsi lahan yang berakibat menurunnya sektor pertanian.

“Pemberian pupuk dan bibit yang unggul serta keberadaan Waduk Logung dapat memberi pengaruh kepada pertanian Mejobo dan Jekulo. Jadi dapat menyusul Undaan yang sudah 3 kali panen,” tandas Tamzil optimistis.

Pasangan nomor 4, Akhwan-Hadi Sucipto mendapat pertanyaan mengenai meningkatnya jumlah kendaraan di Kabupaten Kudus.

“Bekerja sama dengan instansi yang berwenang, seperti Polres, untuk melakukan pembatasan kepada pengguna kendaraan utamanya yang masih berusia di bawah 17 tahun. Lantas menyediakan moda kendaraan untuk transportasi penjemputan,” tutur Hartini, cabup nomor 3.

Masan-Noor Yasin selanjutnya mendapat pertanyaan atas problematika penyandang disabilitas.

“Mereka tidak butuh untuk dikasihani, karena itu kami akan memfasilitasi mereka,” tutur Noor Yasin.

Mamik Indrayani yang menjadi salah satu perumus pertanyaan menilai debat kedua ini cukup baik dibandingkan yang pertama.

Para calon dia nilai lebih siap dalam materi dan segala aspek. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved