PPDB Online

KUMPULAN Keluh Kesah Orangtua Siswa Berprestasi yang Dirugikan Sistem Zonasi PPDB Online

Para orang tua ini keberatan lantaran anak mereka yang memiliki Nilai Ujian Nasional (UN) tinggi harus tergeser oleh siswa bernilai rendah.

KUMPULAN Keluh Kesah Orangtua Siswa Berprestasi yang Dirugikan Sistem Zonasi PPDB Online
tribunjateng/budi susanto
jika ada masalah di PPDB Onlin silakan SMS atau WA di nomor 08112773797 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG COM, BANYUMAS - Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP di Banyumas memunculkan gejolak di masyarakat. Sistem zonasi dalam PPDB 2018 dikeluhkan orang tua siswa berprestasi.

Sekretaris Komisi D DPRD Banyumas Yoga Sugama mengaku menerima aduan dari sekitar 60 wali siswa yang merasa dikecewakan dengan sistem tersebut.

Dalam sistem zonasi PPDB SMP 2018, kuota untuk pendaftar dalam satu zonasi sangat besar, yakni 90 persen dari daya tampung.

Siswa bisa mendaftar di sekolah beda zona melalui jalur siswa berprestasi, tetapi persaingannya sangat ketat. Pasalnya, kuota pendaftaran melalui jalur ini hanya sebesar 5 persen dari daya tampung sekolah.

Para orang tua ini keberatan lantaran anak mereka yang memiliki Nilai Ujian Nasional (UN) tinggi harus tergeser oleh siswa bernilai rendah.

Dari keluhan orang tua itu terungkap, ada siswa yang nilai rata-rata UN nya nyaris sempurna, 9,3 namun harus tersingkir oleh siswa bernilai rata-rata 6. Sebabnya, siswa berprestasi itu kalah dekat tempat tinggalnya dengan sekolah dibanding siswa biasa saja tersebut.

"Ada yang bilang percuma anak saya nilai 9. Jadi di sistem ini nilai UN tidak jadi pertimbangan. Nilai rata-rata 5 pun bisa masuk asal dekat dengan sekolah," katanya, Kamis (5/7)

Situasi ini tentu berbeda dengan kasus PPDB SMA di Banyumas yang nyaris tanpa gejolak.

Ini berbeda dengan PPDB SMP yang disebutnya memberlakukan sistem "zonasi dalam zonasi".

Bagaimana tidak, dalam zona radius 6 kilometer yang ditentukan, masih ada pembagian zona kembali. Meski sama-sama berada di zona 6 km, jarak terdekat dengan sekolah masih jadi pertimbangan utama penerimaan siswa.

Mestinya, menurut Yoga, pemerintah cukup menentukan zonasi pendaftaran dalam radius 6 kilometer. Selebihnya seleksi penerimaan didasarkan pada kompetisi nilai akademik.

"SMP itu zona ditentukan 6 kilometer. Tapi di dalam 6 km itu, dipilih yang paling dekat dengan sekolah siapa. Jadi misal siswa A nilainya 9 tapi jaraknya 2 km, akan kalah dengan siswa B yang nilainya 5 tapi jaraknya 100 meter dari sekolah," katanya. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved