Breaking News:

Resiko Terkena Hipotiroidisme Meningkat karena Paparan Pestisida, Ini Hasil Penelitian Dosen Undip

dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip), Dr Budiyono pun mencoba meriset terkait hal tersebut

Penulis: deni setiawan | Editor: muslimah
FKM Undip
Seusai menjalani ujian promosi doktor bidang kedokteran, Dr Budiyono berfoto bersama promotor dan co-promotor di Ruang Sidang Utama Gedung TTB A Lantai 1 Sekolah Pascasarjana Undip Semarang, Kamis (5/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mungkin belum disadari sebagian masyarakat, terutama yang berada di daerah pedesaan, banyak-sedikitnya penggunaan pestisida pada lahan pertanian ternyata berisiko terkena atau terpapar hipotiroidisme, khususnya pada anak-anak.

Apabila risiko tersebut diabaikan atau tidak diobati secara optimal, dampaknya bisa menyebabkan penyakit gondok, kemandulan, kelainan, hingga gangguan jantung maupun saraf tepi. Hipotiroidisme merupakan kondisi dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan tidak memproduksi hormon tiroid secara memadai.

Itu ditandai melalui peningkatan thyroid Stimulating Hormone (TSH) melebihi batas normal dan kadar free tetraiodothyronine normal atau bahkan rendah. Untuk kasus di Indonesia sendiri, setidaknya terdata ada sekitar 73 kasus terkena hipotiroidisme kongenital dari sekitar 99.708 bayi.

Di Jawa Tengah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip), Dr Budiyono pun mencoba meriset terkait hal tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan itu kemudian menjadi bekal ujian promosi doktor dalam ilmu kesehatan pada Kamis (5/7/2018) di Ruang Sidang Utama Gedung TTB A Lantai 1 Sekolah Pascasarjana Undip Semarang.

Seusai menjalani ujian tersebut, Budiyono menyampaikan daerah yang secara khusus menjadi fokus riset adalah Kabupaten Brebes. Daerah itu dipilih karena diketahui penggunaan pestisida untuk pertanian bawang merah sangat tinggi.

“Di sana, anak-anak yang terpapar pestisida ada sekitar 50 persen dan kejadian hipotiroidisme pada anak sekitar 32 persen dari sekitar 28 anak. Dan dari riset tersebut, kami ingin buktikan riwayat paparan pestisida menjadi faktor risiko hipotiroidisme pada anak, khususnya di daerah pertanian,” ucapnya kepada Tribunjateng.com, Kamis (5/7/2018).

Dia menyampaikan, riset tersebut dilakukan terhadap 228 anak di tingkat sekolah dasar (SD) maupun madrasah ibtidaiyah (MI) mulai dari kelas IV hingga kelas VI. Jika dirinci, 117 adalah anak laki-laki dan 111 anak perempuan.

“Berdasarkan kelengkapan data wawancara, pengumpulan urine, dan kriteria kadar TSH, diperoleh 54 anak menjadi sampel kelompok kasus dan 112 anak di posisi kelompok kontrol. Hasilnya, sekitar 38,9 persen di kelompok kasus terpapar pestisida,” jelasnya.

Lalu, lanjutnya, sekitar 24,1 persen dari 112 anak kelompok kontrol terpapar pestisida. Hasil lain, kejadian hipotiroidisme pada anak di daerah pertanian lebih tinggi atau mencapai sekitar 22,7 persen dibandingkan daerah non pertanian yang hanya sekitar 9,1 persen.

“Kami lakukan penelitian itu di Desa Dukuhlo Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes. Tidak hanya anak-anak, tingginya penggunaan pestisida juga semakin tinggi pula risiko hipotiroidisme pada wanita usia subur di sana,” beber lulusan Magistes Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya itu.

Berkait itu, dia pun menyampaikan, secara umum riset yang telah dilakukan tim dosen Bagian Kesehatan Lingkungan dan Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Undip Semarang itu terkait dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan, khususnya pada fungsi hormon dan tumbuh-kembang anak.

“Riset kami laksanakan sejak 2010 lalu hingga sekarang. Dalam kegiatan itu, kami juga libatkan beberapa pihak seperti Bagian K3 FKM Undip, termasuk juga beberapa ahli dari fakultas lain. Di antara dari Fakultas Psikologi, Obsgin Fakultas Kedokteran Undip,” tuturnya. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved