Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga Menjadi Jawaban Krisis Kebudayaan

Buku Edisi Ketiga Peranakan Tionghoa Indonesia "sebuah perjalanan budaya" hari ini resmi dilaunching di Semarang Contemporary Gallery Kota Lama

Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga Menjadi Jawaban Krisis Kebudayaan
bare kingkin kinamu
Para penulis Peranakan Tionghoa Indonesia dan Chief in Editor Intisari saat acara peluncuran buku di Semarang Contemporary Gallery Kota Lama, Jumat (13/7/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Bare Kingkin Kinamu

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Buku Edisi Ketiga Peranakan Tionghoa Indonesia "sebuah perjalanan budaya" hari ini resmi dilaunching di Semarang Contemporary Gallery Kota Lama, Jumat (13/7/2018).

Ada 14 penulis yang terlibat di edisi ketiga ini.

Buku dengan tebal 482 halaman tersebut dikemas dengan memperbanyak visual gambar.

Dari pihak penerbit mengemukakan jika visual gambar merupakan bentuk adaptasi dari kemajuan zaman.

"Buku ini mengajak masyarakat luas untuk kenal dengan budaya Tionghoa. Tionghoa merupakan bagian dari nusantara," tutur Editor In Chief Intisari, Mahandis Yoanata Thamrin, kepada Tribunjateng.com.

Lelaki yang sering disapa akrab Iwan ini mengemukakan jika buku edisi ketiga ini diproses selama kurun waktu empat tahun.

"Sangat rekomen sekali untuk dibaca. Masyarakat harus tahu peranakan itu sebenarnya apa. Budaya ini sangat penting. Sekarang kita dihadapkan pada krisis budaya," imbuh Mahandis Yoanata Thamrin.

Ia menjelaskan jika buku ini memiliki pesan moral yang dalam, seperti meneladani orang zaman dahulu mengenai kebhinekaan.

"Kedamaian, seni dan sastra memahami ekspresi manusia dalam memahami timbang rasa dan kerurkunan. Inilah budaya itu, kedamaian dan kerukunan," imbuhnya.

Halaman
12
Penulis: Bare Kingkin Kinamu
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved