'Ngumpulke Balung Pisah': Mengabdi di NU Bukan untuk Mencari Jabatan

Ditegaskan, ada tiga ukuran mengabdi di NU, yakni memegang teguh aqidah, syariah dan akhlak.

'Ngumpulke Balung Pisah': Mengabdi di NU Bukan untuk Mencari Jabatan
Istimewa
Sejumlah Ulama saat hadir dalam acara halal bihalal 'Ngumpulke Balung Pisah', di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Minggu (15/7/2018). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ribuan ulama dan warga Nahdlatul Ulama Jateng membanjiri pengajian halal bihalal 'Ngumpulke Balung Pisah', di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Minggu (15/7/2018).

Sederet kiai sepuh hadir, antara lain Pengasuh Ponpes Girikusumo, Mranggen Demak KH Munif Zuhri, Ketum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji sebagai pemrakarsa bersama Ketua Wantim MUI Jateng KH Ali Mufiz MPA, Ketua DPP MAJT Dr KH Noor Ahmad MA, Direktur Pasca Sarjana UIN Walisongo Prof Dr Ahmad Rofiq.

Turut hadir pula tiga mantan Ketua PWNU Jateng Drs H Achmad, Drs HM Adnan MA dan Dr Abu Hapsin PhD. Rektor Unwahas Prof Dr Mahmuhtarom SH MH, Mantan Dirjen Penyelenggaraan Haji Kemenag Prof Dr Abdul Jamil.

Pada halal bihalal sekaligus tasyakuran terpilihnya Ketua PWNU Jateng yang baru, Drs H Muzamil MAg, acara ini diawlai menyanyikan serentak lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon.

Ketua PWNU Jateng Muzamil melalui keterangan persnya, mengatakan, mengabdi di NU bukan untuk mencari jabatan tapi semata ikhlas berkhidmat membesarkan organisasi berharap ridlo Allah.

Ditegaskan, ada tiga ukuran mengabdi di NU, yakni memegang teguh aqidah, syariah dan akhlak.

Kebijakan PWNU akan selalu berdasar pada tiga hal tersebut, dan akhlak menjadi ukuran terpenting dengan terus belajar untuk melanjutkan kepemimpinan para sesepuh.

Muzamil berterima kasih terselenggaranya halal bihalal ngumpulke balung pisah ke 21 yang diprakarsai para kiai sepuh.

Halal bihalal tersebut sebagai amanah almarhum KH Abdul Hamid, tujuannya untuk mempererat tali silaturahim warga NU dari masa ke masa.

“Insya Allah semakin banyaknya budaya silaturahim dan cancut tali wondo semua kader akan semakin mengokohkan NU sebagai modal menghadapi perubahan-perubahan di masyarakat yang begitu cepat,” katanya.

Mantan Sekretaris PWNU Jateng M Arja Imroni menegaskan, kohesi warga NU memiliki kekuatan yang luar biasa. Bila sempat terbelah maka akan cepat nyambung kembali, karena banyak budaya silaturahim. Ibarat air bila dibelah maka dengan cepat segera menyambung lagi.

KH Munif Zuhri dalam ceramahnya menegaskan syarat pengurus PWNU Jateng periode ke depan harus sosok yang gemar membaca selawat Nabi dan tahlil.

Menurutnya, kriteria ini penting mengingat selawatan dan tahlil sebagai ciri nahdliyin, sebagai bentuk cinta kepada Nabi dan takwa kepada Allah.

“Siapapun yang cinta kepada Nabi maka dijamin akan masuk surga. Maka jangan mudah membidahkan selawatan,” pesannya. (*).

Penulis: m nur huda
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved