Sastra Tegalan Menolak Punah, Komunitas Sastrawan Tegal Terbitkan Buku

Buku dengan judul Telik Sandi Sastra Tegalan berisi beberapa artikel karya sastra dari 12 sastrawan asal Tegal

Sastra Tegalan Menolak Punah, Komunitas Sastrawan Tegal Terbitkan Buku
Tribunjateng.com/Mamdukh Adi Priyanto
Sastrawan Tegal, Lanang Setiawan menunjukan buku karya sastrawan Tegal.

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL - Para penyair yang tergabung dalam Komunitas Sastrawan Tegalan bersama Pustaka Senja Yogyakarta menerbitkan buku kumpulan ulasan sastra berbahasa Tegal (Basa Tegalan).

Buku dengan judul Telik Sandi Sastra Tegalan berisi beberapa artikel karya sastra dari 12 sastrawan asal Tegal.

Ada Atmo Tan Sidik, Lanang Setiawan, Maufur, Tambari Gustam, Dwi Ery Santoso, Agung Pranoto, Tri Mulyono, Dina Nurmalisa, Yono Daryono, Mohammad Ayyub, Ipuk NM Nur, dan Tofik Rochadi.

Presiden Penyair Tegalan Dwi Ery Santoso, menuturkan buku tersebut merupakan rintisan sejarah pengangkatan sastra Tegalan melalui gerakan literasi lewat buku kumpulan artikel.

"Buku tersebut ihwal gerakan tekstual para sastrawan Tegal. Berawal dari sastra lisan hingga menulis puisi, cerpen, dan drama menggunakan bahasa Tegalan," kata Dwi Ery, Senin (16/7/2018).

Buku itu, kata dia juga dapat digunakan oleh pemerhati dan peneliti sastra Tegalan.

Para pembaca akan memperoleh sketsa bagaimana Sastra Tegalan dibangkitkan. Tidak hanya sebagai sarana komunikasi tapi juga untuk menambah wawasan hingga akhirnya berimbas sebagai kekayaan intelektual dan estetika berbahasa dalam produk sastra.

"Sebagai karya nyata, para Sastrawan Tegalan telah membuktikan adanya karya kreatif yang tidak pernah mandek. Tidak hanya buku, namun melalui antologi puisi, cerpen, novel, tembang-tembang, monolog, sandiwara radio, video klip sampai pada dunia film yang kesemuanya bernuansa Tegalan.

Sementara, penyair asal Tegal, Lanang Setiawan, yang juga kurator buku mengatakan peluncuran buku Telik Sandi Sastra Tegalan akan dilakukan pada Kamis 2 Agustus 2018 mendatang.

"Kenapa diberi judul telik sandi, telik sandi merupakan orang yang mengawasi satu keadaan dari orang yang akan merusak, padahal keadaan sudah tenteram," ucapnya.

Maksudnya, karya sastra Tegal harus dijaga mulai dari diri sendir dna keluarga.

"Kita harus memiliki kesiapan mental tanggap, tangguh, dan kokoh agar Sastra Tegalan tetap meroket, adiluhung, dan terus terjaga dari tangan-tangan kotor yang hendak merusak gerakan Sastra Tegalan," ujarnya.(*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved