Temu Peneliti Agama Nasional, Menag: Penelitian harus Utamakan Aspek Kemanfaatan

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar temu peneliti agama nasional, 12-14 Juli 2018 di BSD Serpong.

Temu Peneliti Agama Nasional, Menag: Penelitian harus Utamakan Aspek Kemanfaatan
tribunjateng/ist
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin beri wejangan di acara temu peneliti agama nasional, 12-14 Juli 2018 di Hotel Grand Zuri BSD Serpong. 

TRIBUNJATENG.COM - Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar temu peneliti agama nasional, 12-14 Juli 2018 di Hotel Grand Zuri BSD Serpong. Temu peneliti Kementerian Agama RI ini mengusung tema “Peningkatan Peran Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dalam Bidang Agama” dengan narasumber Menteri Agama RI, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Kementerian PAN RB, Pusbindiklat LIPI, dan para peneliti.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin (LHS), menyatakan bahwa Badan Litbang harus mengembangkan setidaknya tiga hal (1) kebermanfaatan, (2) relevansi dan (3) kualitas penelitian. Jika tidak, lembaga Litbang terancam eksistensinya.

Presiden Jokowi, menurut Menteri Lukman merasa "gregeten", ini riset-riset kementerian/lembaga tidak ada tindak lanjutnya. "Riset-riset kita hanya terjebak pada rutinitas. Penelitian hendaknya ada manfaatnya baik langsung maupun tidak langsung. Jika tidak, maka lembaga Litbang tidak hanya anggaran yang akan dikurangi tetapi bahkan dihapuskan," kata Menteri Lukman Hakim.

Negara masih membutuhkan anggaran untuk banyak hal: infrastruktur, sarana prasarana, komunikasi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Bahkan, Menteri Agama “mengancam” bisa jadi ke depan Lembaga Litbang tidak perlu dipimpin oleh peneliti, tidak harus dipimpin oleh orang yang paham penelitian. Tetapi yang dibutuhkan adalah manajer yang mampu menangkap isu-isu sosial keagamaan. Tenaga peneliti bisa “dihire” dari mana saja, yang penting problem sosial keagamaan terselesaikan.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi VIII, Ace Hasan Sadzali menyatakan bahwa forum temu peneliti adalah media untuk sebesar-besarnya bertukar pikiran dan menambah wawasan. Para peneliti bisa menangkap isu-isu sosial, politik, budaya untuk menyuguhkan solusi atas pelbagai persoalan tersebut.

Dunia riset di Indonesia saat ini belum menjadi mainstream utama dalam dunia pengambilan kebijakan. Fakta saat ini adalah bahwa kebijakan kadang lebih kuat aspek politis dan kepentingan sesaat.

Kebijakan belum lahir didasarkan atas dasar riset yang serius, belum atas dasar penelitian akademik, terarah dan terukur.

Selain itu, anggaran riset sangat kecil yakni 0,005 % dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal di negara-negara maju anggaran riset berkisar 2,5 % dari APBN.

Oleh karena itu, perlu payung hukum agar anggaran berpihak pada dunia riset. Jika APBN kita 2000 Triliun, maka 2,5 % anggaran riset kita sekitar 5 triliun. Faktanya anggaran litbang sangat jauh dari angka itu.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved