Terima Surat Pengosongan, Petambak di Terboyo Kulon Merasa Dizalimi Pemkot Semarang

Terima Surat Pengosongan, Petambak di Terboyo Kulon Merasa Dizalimi Pemkot Semarang

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Persoalan area pembuangan (disposal) tanah kerukan sedimentasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) di area tambak produktif di Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, masih berlanjut.

Pemkot Semarang melayangkan surat perintah pengosongan lahan tambak kepada Teha Edy Djohar selaku pengelola tambak, Rabu (18/7/2018).

Edy, sapaannya, menyesalkan sikap Pemkot Semarang yang tidak mau berdialog dengan dirinya. Namun justru menggunakan cara menekan dirinya dengan datangnya petugas Satpol PP dua kali.

"Ini bentuk arogansi Pemkot Semarang. Saya merasa didzalimi. Saya sebagai warga biasa merasa diperlakukan dengan keji. Ini model orba, dimana Pemkot dibantu Satpol PP menekan saya," katanya.

Hingga kini, katanya, belum ada itikad baik dari Pemkot. Bahkan mendadak dirinya didatangi beberapa petugas Satpol PP dan pegawai Pemkot yang kemudian menyerahkan surat perintah pengosongan lahan tambak karena akan dijadikan area disposal sedimentasi Sungai BKT yang saat ini dalam proses normalisasi.

Dalam surat tersebut, Edy diharuskan mengosongkan lahan di area Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) Tambakrejo, Kelurahan Terboyo Kulon, Genuk, paling lambat Minggu (22/7) depan. Karena pada Senin (23/7), area tersebut akan dipakai untuk pembuangan tanah sedimentasi.

"Saya merasa Pemkot sewenang-wenang. Saya akan melawan karena tidak dianggap. Padahal saya sudah mengelola lahan tersebut sekitar 20 tahunan. Kok tiba-tiba disuruh pergi," ucapnya.

Edy berharap, Pemkot Semarang dapat menyelesaikan persoalan ini dengan mencari win-win solution. Untuk itu, Pemkot harusnya mengajak dirinya duduk bersama dan berdialog.

Namun jika harus pindah dalam waktu satu minggu, lanjutnya, hal itu tidak mungkin dilakukan. Pasalnya, 52.000 ekor ikan yang berada di tambak belum waktunya dipanen. Setidaknya, butuh waktu dua bulan lagi untuk siap panen.

"Jika ada dialog yang baik, kan bisa dicari solusinya. Kalau harus panen sekarang, saya rugi. Lha Pemkot juga tidak ada kompensasi apapun. Padahal saya modal beli benih ikannya saja sampai Rp 14 juta," paparnya.

Edy menginginkan ganti rugi yang sepadan dari Pemkot Semarang jika dirinya harus mengosongkan tambak seluas 1 hektar tersebut. Jika tidak, dirinya memastikan akan tetap menolak dan melawan upaya Pemkot.

Area tambak di Terboyo Kulon tersebut sedianya akan digunakan untuk pembuangan tanah dari kerukan sedimentasi Sungai BKT. Setelah tambak diuruk, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang berencana membangun instalasi pengolahan limbah (IPL) di kawasan tersebut. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved