SBY Sampaikan Terima Kasih ke Dokter Terawan, Sakit Apa Sebenarnya?

Metode dokter Terawan kabarnya sudah meringankan hingga menyembuhkan 40 ribu penderita strok

SBY Sampaikan Terima Kasih ke Dokter Terawan, Sakit Apa Sebenarnya?
Warta Kota
Mantan Presiden SBY keluar dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2018). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berterima kasih kepada dokter yang telah merawatnya selama tiga hari, terlebih kepada Kepala RSPAD Gatot Soebroto Mayor Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto SpRad (K) RI.

"Setelah perawatan selama tiga hari, pada hari ini tim dokter mengizinkan saya untuk kembali ke rumah dan masih ada perawatan lanjutan di rumah satu dua hari mendatang. Terima kasih kepada dokter Terawan, dan dokter RSGS (RSPAD Gatot Subroto)," ujar SBY di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2018)

Hal tersebut diucapkannya sebelum dia meninggalkan RSPAD Gatot Subroto, dan menyempatkan diri untuk menemui para wartawan yang menunggu.

Nama Dokter Terawan sempat membuat heboh beberapa bulan lalu, setelah ia dipecat oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), karena diduga melanggar kode etik. Setelah heboh di media, IDI akhirnya batal memecat Terawan.

Dokter Terawan dikenal sebagai ahli terapi cuci otak untuk pengobatan stroke. Terawan mempraktikkan terapi ini sejak 2005.

Metode dokter Terawan kabarnya sudah meringankan hingga menyembuhkan 40 ribu penderita strok. Metode tersebut bahkan telah dipatenkan di Jerman dengan nama Terawan Theory.

Dari dalam negeri, inovasi dokter Terawan juga diganjar sejumlah penghargaan. Di antaranya, penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI, sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Subtraction Angiogram (DSA) terbanyak, serta Penghargaan Achmad Bakrie XV.

Strok terjadi karena penyumbatan pembuluh darah di area otak, biasanya disebabkan oleh lemak. Hal ini mengakibatkan aliran darah jadi macet dan saraf tubuh tak bisa bekerja baik.

Akibatnya, penderita tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bibir, atau anggota tubuh lainnya. Inilah yang menjadi alasan aksi cuci otak dibutuhkan.

Terawan menerapkan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA. Sebuah teknik melancarkan pembuluh darah otak yang sudah ada sejak tahun 1990-an. Modifikasi ini bertujuan mengurangi paparan radiasi.

Halaman
12
Editor: muslimah
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved