Ini Data Capaian Satu Semester Kejati Jateng Selamatkan Uang Negara

Pada puncak Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 tahun, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng, mengumumkan berbagai eksekusi

Ini Data Capaian Satu Semester Kejati Jateng Selamatkan Uang Negara
tribunjateng/hesty imaniar
Pada puncak Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 tahun, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng, mengumumkan berbagai eksekusi yang dillakukan Kejati Jateng, soal uang pengganti kerugian negara, yang nominalnya mencapai Rp 7,141 miliar per Januari-Juni 2018 ini. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pada puncak Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 tahun, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng, mengumumkan berbagai eksekusi yang dillakukan Kejati Jateng, soal uang pengganti kerugian negara, yang nominalnya mencapai Rp 7,141 miliar per Januari-Juni 2018 ini.

Pada perkara tindak pidana korupsi dan ekonomi, di bidang Tindak Pidana Khusus (Aspidsus), eksekusi uang pengganti kerugian negara yang mencapai Rp 7 miliar lebih itu, terdiri dari beberapa perkara saat terjadi proses penyidikan yang dilakukan oleh Kejati Jateng.

Dikatakan oleh Kepala Kejati Jateng, Sadiman, didampingi Asisten Bidang Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng, Heru Chairuddin, saat memberikan keterangan pers di Kantor Kejati Jateng, di Jalan Pahlawan, Semarang, untuk eksekusi denda yang dicapai Kejati Jateng, selama beberapa bulan di semester pertama ini, mencapai Rp 1.068.283.000.

“Dimana eksekusi kerugian negara ini, memiliki dasar dari putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap atau inckrach. Sedangkan untuk uang pengganti kerugian negara, didapatkan dari adanya subsidair yang berlaku di putusan persidangan akhir. Misal, ketika terdakwa didakwa membayar denda, dan apabila tidak membayar, maka akan diganti dengan hukuman badan, itu berjumlah Rp 7 miliar lebih, selama awal bulan di tahun 2018 sampai Juni kemarin,” katanya.

Selain itu, Sadiman juga menyebutkan, selama kurun waktu itu juga, Kejati Jateng, juga mampu mengembalikan dan menyelematkan keuangan negara, sebesar Rp 2.040.318.643. Dimana disampaikan oleh Heru, penyelamatan keuangan negara itu, bisa terjadi, saat penyidikan kejaksaan berlangsung.

“Saat itu ada pengembalian uang, yang belum sampai pada persidangan. Terkait penuntutan tindak pidana korupsi, terdata ada 18 perkara dari penyidikan kejaksaan, sedangkan 32 perkaranya dari pihak kepolisian. Sementara, untuk penuntutan tindak pidana ekonomi dari penyidikan Bea Cukai ada sebanyak 14 perkara, sedangkan dari penyidikan Kanwil Pajak ada satu perkara,” jelasnya.

Sedangkan untuk catatan lainnya dari Aspidsus, juga mencatat, untuk total biaya persidangan selama semester pertama ini, mencapai nominal Rp 97.500, sedangkan untuk potensi kerugian negara, mencapai Rp 933.679.840, karena untuk potensi kerugian negara, perkara yang ditangani tengah dalam proses lidik, dan belum berkekuatan hukum tetap.

Tidak hanya itu saja, heru juga mengutarakan, bahwa untuk perkara tertinggi dari capaian beberapa hal tersebut, dikatakan perkara korupsi merupakan perkara tertinggi, disusul perkara narkotika, dan perkara Bidang Pidana Umum (Pidum) lainnya.

“Capaian ini ternyata meningkat dari Januari-Juni 2017 lalu, dimana berarti, semakin banyak terdakwa yang lebih memilih membayar denda. Karena, jika dilihat dari hasil denda seluruh Jawa Tengah untuk Pidum dan Pidsu mencapai Rp 1,34 sekian miliar yang disetorkan ke negara atau sudah dikembalikan ke negara, sesuai dengan putusan persidangan,” ujarnya.

Acara puncak Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 sendiri, digelar dengan upacara. Selain itu, juga ada pembagian dorprice serta seremonial pemotongan tumpeng. Tidak hanya itu, rangkaian Hari Bhakti Adhyaksa sendiri, juga digelar dengan berbagai kegiatan sosial, seperti khitanan massal, nikah massal, jalan sehat, serta bedah rumah yang digelar di Pati. (*)

Penulis: hesty imaniar
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved