Inilah Sosok Sang Guru Ki Entus Susmono yang Ingin Wayang Tetap Lestari

tak hanya dipakai oleh dalang-dalang dari Jawa Tengah, bahkan, wayang kulit buatannya tembus hingga kancah Asia hingga Benua Eropa.

Inilah Sosok Sang Guru Ki Entus Susmono yang Ingin Wayang Tetap Lestari
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Ki Gondo Margono sedang membuat wayang kulit di rumahnya yang terletak di Desa Pait Kecamatan Kasesi Kabupaten Pekalongan, Senin (23/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Pernah dengar nama Ki Gondo Margono? pastinya masih asing ditelinga. Ki Gondo merupakan guru yang mengajari tentang pewayangan dari dalang ternama yaitu almarhum Ki Entus Susmono yang meninggal beberapa waktu lalu.

Sosok ramah dari Desa Pait Kecamatan Seragi Kabupaten Pekalongan tersebut kini masih eksis mengajar beberapa dalang dan sekaligus membuat wayang kulit.

Karya dari Ki Gondo tak hanya dipakai oleh dalang-dalang dari Jawa Tengah, bahkan, wayang kulit buatannya tembus hingga kancah Asia hingga Benua Eropa.

Walaupun dianggap sebagai guru bagi dalang-dalang, namun lelaki berumur lebih dari setengah abad tersebut tetap rendah hati dan masih ingin melestarikan wayang ditengah gerusan jaman.

Ki Gondo (67) menerangkan mulai membuat wayang sejak 1978 dan butuh kesabaran untuk membuat sebuah wayang yang memiliki nilai seni tinggi.

"Dari proses menggambar pola wayang pada kulit, hingga pengecatan butuh kesabaran. Karena wayang ada pakemnya, baik warna dan lekuk wajah punya makna tersendiri," ujarnya, Senin (23/7/2018).

Karena rumitnya proses pembuatan dan faktor usia, pria 67 tahun itu, kini hanya bisa membuat 3 wayang dalam sebulan.

"Selain dalang biasanya para pecinta wayang dari Jepang dan Eropa yang datang untuk memesan wayang buatan saya. Kisaran harga paling mahal saya bandrol Rp 3,5 juta dan piling murah Rp 500 ribu," paparnya.

Adapun untuk satu set wayang yang berisi 250 karakter, Ki Gondo membandrol harga Rp 500 juta dan memakan waktu hampir 6 bulan lamanya.

"Walaupun sekarang wayang kurang diminati, tapi saya ingin wayang tetap lestari. Jika ada yang ingin belajar saya membuka pintu lebar-lebar, karena kalau tidak ada yang mau meneruskan lambat laun eayang akan hilang," timpalnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved