Upaya Kurangi Asap Hitam, Semua Bus Trans Semarang Akan Gunakan Bahan Bakar Gas  

Upaya Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam mewujudkan Kota Semarang sebagai kota cerdas berwawasan lingkungan terus diwujudkan

Upaya Kurangi Asap Hitam, Semua Bus Trans Semarang Akan Gunakan Bahan Bakar Gas   
TRIBUN JATENG/M ZAENAL ARIFIN
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (kiri) menyaksikan uji emisi BRT Trans Semarang yang sudah menggunakan bahan bakar gas di halaman Balai Kota Semarang, Selasa (24/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Upaya Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam mewujudkan Kota Semarang sebagai kota cerdas berwawasan lingkungan terus diwujudkan dalam berbagai program.

Kali ini bekerja sama dengan Pemerintah Kota Toyama, Jepang, Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut memulai program konversi bahan bakar bus Trans Semarang menjadi gas.

Hal ini dilakukan untuk tersedianya transportasi umum yang ramah lingkungan di Kota Semarang. Kerjasama antar Kota Semarang dan Kota Toyama, Jepang sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak penandatanganan MOU pada 14 Desember 2017.

Selain lebih ramah lingkungan, Hendi meyakini dengan penggunaan gas sebagai bahan bakar armada bus Trans Semarang maka biaya yang dikeluarkan untuk operasional BRT Trans Semarang bisa lebih efisien dibandingkan sebelumnya.

"Untuk solar per liternya biaya yang harus dikeluarkan berkisar di angka Rp 5.150,-, sedangkan kalau gas per liternya hanya Rp.4500,- untuk jarak tempuh 2,5 km pada bus besar, dan 3,5 km pada bus medium”, Jelas Wali Kota Semarang yang juga politis PDI Perjuangan tersebut, di Halaman Balaikota Semarang, Selasa (24/7/2018).

Adapun jumlah armada bus Trans Semarang yang rencananya akan dikonversi menjadi berbahan bakar gas adalah sebanyak 72 armad yang meliputi koridor 1, 5, 6, 7, dan yang menuju ke Bandara.

“Proses pemasangan alat hingga selesai konversi ini direncanakan hingga 31 Desember 2018. Dan untuk suplai gas sendiri ke depannya akan dicukupi dari SPBG kaligawe," lanjutnya.

Hendi juga menjelaskan dari kerjasama antara Kota Semarang dengan Kota Toyama, Jepang disepakati jika kedua belah pihak akan menanggung bersama biaya konversi armada bus menjadi bahan bakar gas tersebut.

“Dalam program konversi ini, pemerintah mengalokasikan dana yang bersumber pada APBD 2018 sebesar 50 person. Sehinga dari total kalkulasi sekitar 10 Milyar, Pemerintah Kota Semarang akan menanggung sekitar 5 miliar," papar Hendi.

Penggunaan gas sebagai bahan bakar sendiri terbukti membawa dampak dampak positif dengan mengurangi emisi bahan bakar.

Sesuai hasil pengecekan uji emisi yang dilakukan kepada sebuah armada bus Trans Semarang di halaman Balaikota Semarang (24/7) terlihat adanya perbaikan kualitas gas buang yang sangat signifikan, dari angka 44.2 persen turun menjadi 12.5 persen.

Upaya Wali Kota Hendi ini juga merupakan respon dari keluhan masyarakat yang selama ini terganggu dengan emisi gas buang solar berwarna hitam.(*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved