Opini

OPINI Ali Damsuki: Polemik Narapidana (Koruptor) Men-Caleg

Panggung perhelatan pemilihan calon legislatif (caleg) tahun 2018 sudah dimulai. Para calon dari berbagai partai politik

OPINI Ali Damsuki: Polemik Narapidana (Koruptor) Men-Caleg
Tribun Jateng

Oleh Ali Damsuki

Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Walisongo Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Panggung perhelatan pemilihan calon legislatif (caleg) tahun 2018 sudah dimulai. Para calon dari berbagai partai politik mulai gegap gempita mendaftarkan ke KPU, baik dari tingkatan kota hingga daerah. Pemimpin yang menjadi visioner menurut partai politik yang diusungnya akan mulai berebut ‘kursi’ di pemerintahan.

Dalam pemiihan calon legislatif tersebut terdapat tambahan 15 kursi di DPR-RI, dan puluhan kursi DPRD. Sebanyak 7.796 bakal caleg telah didaftarkan oleh 16 parpol. Termasuk 3.144 bakal caleg perempuan (40,32%). Kemungkinan menjadi anggota parlemen hanya 7,37%. (Bhirawa.com)

Namun sungguh ironis, pasalnya para calon yang terdaftar banyak didominasi oleh narapidana kopusi. Hal inilah yang menjadi sebuah propaganda yang kian masif bagi rakyat Indonesia. Dalam peribahasa, “orang tidak akan mau jatuh dalam lubang duri yang sama untu kedua kalinya”.

Kondisi tersebut juga didukung dengan peraturan KPU Nomor 20 tahun 2018, yang melarang mantan napi korupsi. Larangan tercantum pada pasal 7 ayat (1) PKPU 20/2018 juga menyebut napi kejahatan berat lainnya. Walau vonis hukumannya kurang dari lima tahun. Karena pada PKPU yang disebut bukan vonis hukuman, melainkan “ancaman” hukuman sesuai KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Peraturan yang tercantum pada pasal 7 ayat (1) huruf g, diberlakukan pada tindak pidana dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun. Tetapi larangan berdasar PKPU, masih terdapat pembolehan bersyarat.

Tercantum pada pasal 7 ayat (4) huruf a, dan hurtuf b. Yakni, bakal caleg mantan napi harus membuat pengumuman terbuka di media masa tentang statusnya.

Aroma-aroma politis caleg kali ini memang sudah berada depan di hidung kita. Nuansa mencekam persaingan dari setiap calon menjadi dinamika politik yang terkesan ‘lucu’ di negeri ini.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved