Musim Panen Tahun Ini, Kampoeng Kopi Banaran Diprediksi Bisa Hasilkan 300 Ton Kopi Kering

ada musim panen tahun ini, General Manager Kampoeng Kopi Banaran Widya Banu Aji memprediksi bisa menghasilkan sekitar 300 ton kopi kering

Musim Panen Tahun Ini, Kampoeng Kopi Banaran Diprediksi Bisa Hasilkan 300 Ton Kopi Kering
Tribunjateng.com/Deni Setiawan
Aktivitas juru petik memetik kopi di perkebunan kompleks Wana Wisata Agro Kampoeng Kopi Banaran Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, Sabtu (28/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Pada musim panen tahun ini, General Manager Kampoeng Kopi Banaran Widya Banu Aji memprediksi bisa menghasilkan sekitar 300 ton kopi kering berjenis robusta dari perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Semarang tersebut.

“Melihat kondisinya, kami targetkan paling sedikitnya bisa menghasilkan 1.300 ton kopi basah atau setara sekitar 300 ton kopi kering. Rata-rata di tiap tahun, melalui perkebunan ini kami bisa panen antara 350-400 ton kopi kering,” ucap Banu.

Ditemui Tribunjateng.com, Sabtu (28/7/2018), dia menyampaikan, untuk mengoptimalkan aktivitas pemetikan buah kopi yang ada di Perkebunan Getas Afdeling Asinan-Kempul Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang tersebut pihaknya merekrut sekitar 300 buruh lepas (tenaga borong).

“Mereka dari berbagai daerah. Ada yang dari sekitar perkebunan, ada pula yang dari Kabupaten Boyolali, bahkan Temanggung. Setiap hari kami jemput pada pagi hari dan antar pada sore harinya,” tuturnya.

Adapun jika disesuaikan kemampuan para juru petik kopi tersebut, terangnya, setidaknya setiap orang bisa memetik antara 70 hingga 100 kilogram per hari. Apabila dirata-rata adalah 80 kilogram.

Sesuai kondisi di perkebunan seluas sekitar 400 hektare tersebut, kebutuhan terhadap ratusan buruh borong tersebut hanyalah di saat memasuki musim panen raya. Dimana biasanya tiap Juli dan Agustus.

“Untuk musim panen kopi, biasanya dimulai Mei dan akan berakhir pada September. Selain bulan-bulan tersebut tidak ada aktivitas petik, hanya sekadar pemantauan serta perawatan pada tanaman (pohon) kopi,” ujarnya.

Lalu ke manakah seluruh hasil panen buah kopi tersebut? Banu menerangkan, setelah dipanen dan disortir --memilih kualitas buah--, segera dikirim ke pabrik yang berada di Desa Gemawang Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang.

“Buah-buah kopi tersebut pun akan melewati berbagai tahapan hingga akhirnya menjadi biji-biji kopi siap pakai. Terhadap biji kopi tersebut pun ada gradenya. Namun secara umum seluruh kopi yang dihasilkan di sini adalah kopi berkualitas,” tandasnya.

Dia menyampaikan, melalui pabrik kopi PTPN IX Semarang tersebut, akan dilihat sesuai kualitasnya. Dan untuk saat ini mayoritas hasilnya untuk pemenuhan kebutuhan ekspor atau sekitar 80 persen.

“Sisanya sekitar 20 persen untuk pemenuhan kebutuhan lokal atau menjadi produk hilir PTPN IX Semarang. Untuk ekspornya sendiri, mayoritas kami kirim ke Italya. Ke depan kami ada target akan mengurangi ekspor tersebut sebab permintaan lokall semakin meningkat,” terangnya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved