Ternyata Panen Kopi Ada Tahapannya Lho, Yuk Simak

Terakhir, ucap Banu, adalah kegiatan leles. Dimana pada kegiatan tersebut lebih fokus untuk membersihkan atau mengambil buah kopi

Ternyata Panen Kopi Ada Tahapannya Lho, Yuk Simak
Tribunjateng.com/Deni Setiawan
Aktivitas juru petik memetik kopi di perkebunan kompleks Wana Wisata Agro Kampoeng Kopi Banaran Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, Sabtu (28/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - General Manager Kampoeng Kopi Banaran Widya Banu Aji menerangkan, ada beberapa tahapan dalam pemetikan kopi di setiap musimnya. Khususnya di Perkebunan Getas Afdeling Asinan-Kempul Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang dimana komoditas atau jenisnya adalah robusta.

Di perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Semarang seluas sekitar 400 hektare tersebut, di tiap tahun biasanya aktivitas petik kopi dimulai pada Mei atau Juni. Pada fase tersebut adalah panen longsong.

“Itu adalah aktivitas mengambil buah kopi yang terkena hama bubuk buah. Caranya pun harus manual. Buah tersebut kemudian direbus untuk mematikan hama. Setelah itu dikirim ke pabrik yang ada di Gemawang Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang,” terangnya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (28/7/2018).

Lalu, urai Banu --sapaan akrab Widya Banu Aji--, pada Juni adalah aktivitas petik onclong. Pemetikan terhadap kopi yang sudah terlihat memerah, tetapi jumlahnya belum terlalu banyak atau baru sekitar 1,5 persen dari total produksi.

“Baru pada Juli, lebih dari 50 persen di setiap pohon kopi sudah terlihat merah. Itu kemudian yang kami menamakannya panen raya atau borong. Di musim tersebut akan melibatkan ratusan buruh petik kopi,” tuturnya.

Di musim tersebut, lanjutnya, para buruh petik akan dibagi menjadi beberapa blok kebun --pohon-- kopi yang akan dipanen dan diterapkan sistem rotasi petik. Rotasi yang dimaksud itu adalah, semisal hari ini sudah dipetik, akan dipetik kembali pada 14 hari berikutnya.

“Biasanya dalam satu lokasi, bisa 4 hingga 5 kali rotasi (pemetikan). Setelah melewati masa panen raya, lanjut ke panen racut. Itu ketika kondisi kopi sudah mulai sedikit dan harus diambil seluruhnya (baik yang berwarna merah, kuning, hijau, maupun hitam),” tukasnya.

Terakhir, ucap Banu, adalah kegiatan leles. Dimana pada kegiatan tersebut lebih fokus untuk membersihkan atau mengambil buah kopi yang tertinggal di tanah sekitar pohon. Maksud dari kegiatan tersebut adalah untuk mencegah inang kemunculan hama bubuk buah.

“Jika kami melihat kondisi musim panen tahun ini, diprediksi paling sedikitnya bisa menghasilkan 1.300 ton kopi basah atau setara sekitar 300 ton kopi kering. Rata-rata di tiap tahun, dari kebun ini bisa menghasilkan antara 350-400 ton kopi kering,” ucapnya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved