Ganjar Hadiri Ritual Tungguk Tembakau di Boyolali, Petik 12 Daun
Warga kampung Gunungsari menggelar ritual Tungguk Tembakau sebagai penanda panen raya.
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Warga kampung Gunungsari menggelar ritual Tungguk Tembakau sebagai penanda panen raya. Acara tahunan itu rutin digelar warga di Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Seperti tahun sebelumnya, ratusan warga desa setempat berkumpul di makam Gunungsari, Kamis (2/8) sekitar pukul 09.00. Mereka berkostum adat jawa. Kaum lelaki mengenakan beskap, perempuan berkebaya.
Ada sekira enam gunungan bervariasi makanan dan hasil ladang. Beberapa yang menarik selera adalah nasi jagung, ingkung ayam.
Beberapa tokoh masyarakat pun memanjatkan doa-doa ucapan syukur.
Panen kali ini melimpah. Usai prosesi doa, tiga gunungan makanan pun diserbu warga. Sisa gunungan yang berupa hasil panen pun diarak keliling kampung, berakhir di panggung utama.
Petani tembakau Kayati, bersyukur panen tembakau tahun ini berlimpah. Perempuan lanjut usia itu sempat khawatir gagal panen saat terjadi erupsi Merapi, beberapa bulan lalu.
Daun-daun tembakau muda diselimuti butiran debu vulkanik merata.
"Saya sujud syukur kami masih diberi hujan dua malam. Kalau tidak, banyak tembakau yang rusak. Selain itu, sempat ada angin kencang yang merontokkan debu-debunya," beber dia.
Ritual Tungguk Tembakau pun didatangi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ganjar tiba di Boyolali pada Rabu (1/8) malam. Dia menginap di rumah warga Desa Suroteleng, Kecamatan Selo.
Saat ritual, Ganjar mendapat kesempatan memanen tembakau kali pertama. Dia memetik 12 tangkai daun. Kenapa 12? Menurutnya melambangkan hari ke-12 pada panen raya itu.
Pria bergelar Senopati Tembakau itu berjanji tidak akan impor tembakau. Dia pula berujar telah berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan, Menteri Perekonomian, dan Presiden Joko Widodo, supaya membatasi impor bahan baku rokok itu.
"Rumusnya sederhana kok. Kalau memang butuh tembakau, ya beli dulu lokalnya. Kalau masih kurang atau stok lokal habis, silakan impor," bebernya.
Alumnus UGM itu pun berharap ritual Tungguk Tembakau menjadi viral dan menarik minat wisatawan. Pun dia mengimbau para perangkat desa agar tak sungkan belajar dengan akademisi, demi kemajuan wisata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gubernur-jawa-tengah-ganjar-pranowo_20180802_195102.jpg)