Penghuni Lokalisasi SK di Kota Semarang Resah, PSK: Kalau Ditutup Kami Kerja Apa?

Kabar rencana penutupan resosialisasi Argorejo atau lokalisasi Sunan Kuning (SK) kian santer terdengar

Penghuni Lokalisasi SK di Kota Semarang Resah, PSK: Kalau Ditutup Kami Kerja Apa?
tribunjateng/hermawan handaka
Forum Kota Sehat Semarang berdiskusi dalam acara Sosialisasi Kesehatan Di Tengah Sampah Masyarakat kepada para PSK di Balai RW 04 (Gedung Resosialisasi) Jalan Argorejo Raya No 1 Semarang, Kamis (2/8). Diskusi yang di sampaikan dalam forum ini mengajak para PSK untuk bijak menyikapi kesehatan. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kabar rencana penutupan resosialisasi Argorejo atau lokalisasi Sunan Kuning (SK) kian santer terdengar. Hal itu membuat para penghuni lokalisasi terbesar di Kota Semarang merasa resah.

Satu di antaranya Ella (35), seorang pelaku usaha di lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Ia mengatakan, pihaknya sudah lama mendengar adanya rencana penutupan lokalisasi oleh Pemkot Semarang. Belakangan ini, kabar penutupan lokalisasi tersebut kembali berhembus.

"Ia ada kabar lagi begitu. Namun kami berharap rencana itu dikaji ulang mengingat banyak orang yang akan terdampak akibat rencana itu," katanya saat ditemui di sela diskusi kesehatan di tengah sampah masyarakat di Gedung Aula Lokalisasi Sunan Kuning, Kamis (2/8/2018).

Ia menuturkan, penutupan Sunan Kuning bukanlah solusi untuk mengatasi persoalan penyakit masyarakat di kawasan itu. Selain itu, ada banyak orang yang sehari-hari mengandalkan penghidupan dari bisnis hiburan di Sunan Kuning.

"Jika ditutup, maka justru akan banyak masalah yang akan timbul. Karena itu, tentu saja kami resah. Kalau ditutup, kami kerja apa," ucapnya.

Pemkot Semarang bersama pengelola Lokalisasi Sunan Kuning secara rutin memberikan berbagai pelatihan kepada para penghuni. Hanya saja, hal itu dirasa tidak bisa menjadi solusi jika penutupan tetap dilakukan.

"Kalau pemerintah berencana menutup karena untuk menghilangkan penyakit masyarakat, saya justru berfikir kalau tempat ini ditutup maka prostitusi di jalanan akan marak," tegasnya.

Pengelola Lokalisasi Sunan Kuning, Suwandi mengatakan, Lokalisasi Sunan Kuning diibaratkan adalah tong sampah masyarakat. Namun jika dikelola dengan baik, maka tong sampah itu akan tetap bersih dan sampahnya tidak akan bertebaran di luar.

"Untuk rencana penutupan tempat ini, saya tetap menghormati. Namun harus dipikirkan dampak dari penutupan ini, termasuk berserakannya sampah masyarakat ini di jalanan," katanya.

Selain akan menimbulkan persoalan baru, penutupan lokaslisasi lanjut dia juga harus memanusiakan para penghuninya. Pemerintah harus memikirkan nasib ratusan orang yang menggantungkan hidupnya di lokasi itu.

"Di tempat ini ada 486 anak asuh saya dan 177 ibu asuh. Belum lagi para karyawan, tukang parkir, penjual makanan dan lain sebagainya. Artinya ada banyak perut yang harus dipikirkan jika penutupan akan dilaksanakan," tegasnya.

Selama ini lanjut dia, pihaknya sudah membekali para anak asuh dengan sejumlah pelatihan keterampilan. Namun itu saja tidak cukup untuk masa depan mereka.

"Harus ada modal usaha, untuk itu harus ada dana pendukung yang diberikan kepada semua orang di lokasi ini jika memang penutupan akan dilakukan," jelasnya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved