Sentimen Eksternal Himpit Rupiah dan IHSG

Menurut dia, IHSG akan bergerak di rentang 5.982-6.069. Saham yang perlu dicermati di antaranya BMRI, BNII, CTRA, DOID, ESSA dan PTPP.

Sentimen Eksternal Himpit Rupiah dan IHSG
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Nilai tukar rupiah kembali terpuruk. Kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,36 persen menjadi Rp 14.052 per dollar Amerika Serikat (AS). Serupa, kurs tengah rupiah Bank Indonesia terdepresiasi 0,57 persen ke level Rp 14.036 per dollar AS. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,36 persen ke level 6.011,72 pada Kamis (2/8) kemarin. Namun, investor asing masih mencatatkan net buy Rp 154,68 miliar.

Koreksi IHSG masih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya keputusan The Fed menahan suku bunga acuan. Analis Semesta Indovest Sekuritas Aditya Perdana Putra mengatakan, selain sentimen suku bunga The Fed, penurunan indeks juga disebabkan aksi profit taking dari sektor pertambangan dan aneka industri.

Aditya menilai koreksi indeks saat ini masih wajar. Pada perdagangan Jumat (3/8) hari ini, Aditya memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran level support 5.960 dan resistance 6.060.

"Saya lihat indeks masih akan sideways ke arah melemah," prediksi dia, Kamis (2/8).

Sementara analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji memperkirakan, IHSG masih berpotensi menguat lantaran nilai tukar rupiah dan harga komoditas dunia cenderung stabil. "Sentimen dari The Fed dan perang dagang mulai mereda," jelas Nafan.

Menurut dia, IHSG akan bergerak di rentang 5.982-6.069. Saham yang perlu dicermati di antaranya BMRI, BNII, CTRA, DOID, ESSA dan PTPP.

Himpitan sentimen eksternal juga menekan rupiah. Kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,26 persen ke Rp 14.478 per dollar Amerika Serikat (AS). Sedang kurs tengah rupiah di Bank Indonesia (BI) turun tipis 0,03 persen menjadi Rp 14.446 per dollar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede, berpendapat, tekanan pada rupiah masih didominasi oleh hasil pertemuan FOMC kemarin. "Meski suku bunga ditahan sesuai ekspektasi, pasar mengantisipasi probabilitas The Fed menaikkan suku bunga lebih tinggi pada September nanti," ujar Josua, Kamis (2/8).

Meski kemarin mulai bergerak turun, Josua menilai, penguatan dollar juga dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil (yield) US Treasury yang sempat melonjak menyentuh 3 persen, kemarin.

Untungnya, penguatan dollar tertahan oleh sentimen negatif dari wacana Presiden AS Donald Trump untuk menambah nilai tarif impor pada barang-barang China.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved