Ditemukan Candi Hindu di Kebun Durian Sutopo di Mijen Semarang

Ekskavasi yang dilakukan selama 11 hari, sejak 25 Juli lalu hingga 5 Agustus mendatang, merupakan tindak lanjut tahun 2015 lalu.

Ditemukan Candi Hindu di Kebun Durian Sutopo di Mijen Semarang
Tribun Cetak/Detik.com

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) dan EFEO (Ecole Franqaise D' Extreme Orient) atau Lembaga Penelitian Prancis untuk Asia Timur melakukan ekskavasi atau penggalian bangunan berupa undakan diduga candi Hindu di Mijen, Kota Semarang.

Ekskavasi yang dilakukan selama 11 hari, sejak 25 Juli lalu hingga 5 Agustus mendatang, merupakan tindak lanjut tahun 2015 lalu.

Bangunan undakan berupa candi tersebut berada di lahan milik Sutopo (66), yang masuk wilayah Duduhan RT 05 RW 05, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Di lahan yang ditanami pohon durian dan mahoni tersebut terdapat gundukan. Adapun gundukan tersebut berupa bangunan yang dengan bahan batu bata.

"Dulunya di gundukan itu ada arca Ganesha yang pernah hilang. Sekarang arca tersebut berada di Museum Ronggowarsito Semarang," kata Sutopo, di sela-sela ekskavasi, Kamis (2/8).

Ekskavasi, katanya, pernah dilakukan pada tahun 2015, kemudian kembali dilanjutkan dengan lahan yang lebih luas. "Sekarang lokasi ekskavasi lebih luas," katanya.

Agus Sianto Indra Jaya dari PPAN mengatakan, kegiatan ekskavasi saat ini merupakan kelanjutan penelitian pada tahun 2015.

"Pada tahun 2015 yang lalu hanya baru ketemu candi induknya yang berukuran 9,3 x 9,3 meter persegi. Kami cek di sebelah timur, memang benar ada gejala sebagai pintu masuk candinya," kata Agus.

Dia menjelaskan, pintu masuk candi terletak di sebelah timur.

"Kemudian dicek sebelah timurnya ada tiga candi perwaranya (candi pendamping--Red). Kami gali, ada tiga candi perwara yang kira-kira ukurannya cukup besar 5,4 x 5,4 meter persegi," katanya.

Berdasarkan candi tertinggal, katanya, bersifat Siwaistik dan diperkirakan dibangun sekitar Abad IX. Selain itu, masih berada di kampung tersebut ada juga batu persajian.

"Ini jelas candi Hindu karena ada ganesha di Museum Ronggowarsito. Ada yoni juga yang sekarang di rumah penduduk. Saya kira ini jelas Hindu, polanya seperti satu candi induk dengan tiga candi perwara itu seperti Prambanan, juga begitu kan," tutur Agus.

Saat ini, pihaknya masih berupaya mencari pagar keliling. Mengingat yang ditemukan sekarang baru berupa candi induk dan tiga candi perwara. "

Candi ini berfungsi untuk pemujaan pada masa Mataram Kuno," kata dia.

Saat ini yang tersisa, katanya, tinggal berupa pondasi, sedikit kaki candi dan lantai, sedangkan bangunan badannya ke atas belum diketahui.

Sementara itu, Veronique Degroot dari Lembaga Penelitian Prancis untuk Asia Timur menambahkan, sudah lama bekerja sama dengan PPAN, sejak tahun 1976 sampai sekarang.

Adapun di Situs Duduhan, katanya, telah kedua kali datang, pertama pada tahun 2013 saat melakukan survei dan selanjutnya dilakukan penggalian oleh Puslit pada tahun 2015. "Kami merasa belum selesai informasi masih kurang, kita pikir kalau ada tahap dua. Ekskavasi tahap kedua ini kelihatannya masih kurang informasinya," tuturnya.

Pengalian yang dilakukan, tuturnya, sejauh ini baru mencapai sekitar 25 persen untuk bagian candinya. Sedangkan untuk luas situsnya sendiri belum diketahuinya. "Kalau dari situsnya belum tahu berapa luasnya karena harus dapat pagar kelilingnya," tuturnya. (dtc/amp)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved