Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Musim Ubur-ubur Pascagelombang Tinggi, Berkah bagi Nelayan dan Peringatan bagi Wisatawan

Aktivitas di pantai-pantai wisata di Cilacap pun kembali normal. Wisatawan juga mulai berkunjung ke pantai untuk bersantai.

Charlotte Lawson/Facebook
Pasukan ubur-ubur berwarna biru 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Intensitas gelombang tinggi di perairan selatan Jawa karena angin timuran mulai menurun. Para nelayan yang sebelumnya sempat libur karena khawatir gelombang tinggi sudah mulai melaut.

Aktivitas di pantai-pantai wisata di Cilacap pun kembali normal. Wisatawan juga mulai berkunjung ke pantai untuk bersantai.

Tetapi perlu diwaspadai karena kawasan pantai saat ini mulai diserbu ubur-ubur yang terdampak karena terbawa ombak. Kondisi ini tentu bisa mengganggu kenyamanan wisatawan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap Sarjono memperingatkan keberadaan ubur-ubur yang kini banyak ditemui di kawasan pantai.

Sengatan ubur-ubur bisa menyebabkan gatal-gatal dan terasa pedas di kulit.

Di antara beragam jenis ubur-ubur yang berkeliaran di pantai, ubur-ubur Leteh atau Rawe, sebutan warga lokal, adalah jenis ubur-ubur yang dianggap paling berbahaya atau beracun. Sengatannya bisa membuat kulit melepuh.

Tak ayal, tentakelnya yang beracun bisa membuat korban pingsan.

"Sangat berbahaya. Bentuknya lebih kecil dan tudungnya berwarna biru,"katanya

Ubur-ubur Rawe biasa ditemukan bersamaan dengan munculnya ubur-ubur biasa yang terdampar karena ombak.

Ubur-ubur tudung biru ini dikenal juga sebagai ubur-ubur api. Karena beracun, ubur-ubur jenis ini tak layak dikonsumsi.

Di lain sisi, musim ubur-ubur pada musim angin timuran ini menjadi berkah tersendiri bagi nelayan.

Sarjono mengatakan, musim ubur-ubur biasa muncul pada musim kemarau atau angin timuran, sekitar Juli-Agustus 2018. Musim angin timuran sekaligus menjadi puncak terjadinya gelombang tinggi di laut.

Setiap perahu nelayan saat ini bisa memperoleh sekitar dua hingga tiga kuintal ubur-ubur.

Perolehan itu belum maksimal. Pada puncaknya, nelayan bisa memperoleh lebih dari satu ton ubur-ubur tangkapan.

"Ubur-ubur mulai keluar setelah ada gelombang tinggi. Setelah mereda, nelayan mulai melaut dan dapat ubur-ubur,"katanya

Sayangnya, panen ubur-ubur ini belum diimbangi keuntungan yang menjanjikan. Harga ubur-ubur masih rendah, di kisaran Rp 700 hingga Rp 1.200 per kilogram.

"Nanti seiring banyaknya pengusaha yang buka, harga mungkin akan merayap naik," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved