Bank Beramai-ramai Cari Pendanaan dari Obligasi

Pada 2018, bank ramai mencari pendanaan dari penerbitan obligasi maupun aksi korporasi lain.

TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pada 2018, bank ramai mencari pendanaan dari penerbitan obligasi maupun aksi korporasi lain.

PT Bank Mandiri Tbk misalnya menerbitkan obligasi sebagai bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) I tahap III 2018 dengan target dana sebesar Rp 3 triliun. Adapun, PUB I Tahap III tahun 2018 ini adalah bagian dari PUB I Bank Mandiri dengan total size sebesar Rp 14 triliun.

Sebelumnya pada 2016 dan 2017, bank berlogo pita emas itu telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 11 triliun yang terbagi dalam dua tahap. Pada PUB Tahap I 2016 Bank Mandiri sudah menerbitkan obligasi senilai Rp 5 triliun dan pada PUB tahap II tahun 2017 sebesar Rp 6 triliun.

Direktur Tresuri dan Internasional Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, penerbitan obligasi dimaksudkan untuk memperkuat struktur pendanaan bank untuk menopang ekspansi kredit.

Dalam penerbitan tersebut, Bank Mandiri telah menunjuk enam perusahaan penjamin emisi yakni Mandiri Sekuritas, Bahana Sekuritas, BCA Sekuritas, BNI Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Trimegah Sekuritas.

PUB I Tahap III itu akan diterbikan dengan tenor 5 tahun dengan kisaran kupon 7,75 persen sampai 8,5 persen. "Calon investor akan melihat kupon tidak lebih rendah dari 7,75 persen dan tidak lebih tinggi dari 8,5 persen. Jika mau pastikan ya agak yang ke kiri sedikit," kata Darmawan di Jakarta, Rabu (8/8).

Menurut Darmawan, nantinya rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) Bank Mandiri akan terjaga di kisaran 92 persen hingga 93 persen dengan adanya penerbitan obligasi ini. Sementara itu, Pejabat Eksekutif Bidang Keuangan Bank Mandiri Panji Iriawan menjelaskan, aksi korporasi ini merupakan yang terakhir dilakukan Bank Mandiri pada tahun ini.

Sebelumnya, Bank Mandiri telah menerbitkan medium term notes (MTN) sebesar Rp 500 miliar dalam rangka pemenuhan kewajiban Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal surat utang. "Penerbitan ini menjadi penutup aksi korporasi Bank Mandiri di tahun ini. Dengan book building sampai 24 Agustus dan pencairan pada minggu kedua di bulan September 2018," ujar Panji.

Panji menerangkan, dana yang diperoleh dari PUB I Tahap III ini akan dipakai untuk mendorong penyaluran kredit. Terutama untuk pembiayaan dengan tenor jangka panjang. Nantinya sektor yang akan disasar cukup beragam, namun mayoritas akan disalurkan ke kredit segmen korporasi.

"Mayoritas profilnya kredit lima tahunan akan sangat cocok sekali bila sumber dananya lima tahun juga, jadi akan dimanfaatkan untuk kredit di atas 3 sampai 5 tahun," ungkapnya.

Sebagai informasi, hingga Juni 2018 lalu Bank Mandiri telah menyalurkan kredit sebesar Rp 762,5 triliun atau meningkat 11,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Dari pencapaian tersebut, pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit segmen korporasi yang meningkat 22,2% dengan realisasi sebesar Rp 296,8 triliun.

Sebagian besar kredit korporasi Bank Mandiri disalurkan untuk pembiayaan infrastruktur. Per Juni 2018, bank BUMN ini telah mencatatkan penyaluran kredit infrastruktur sebesar Rp 165,8 triliun atau 65 persen dari total komitmen yang diberikan, yaitu Rp 255,3 triliun.

Kredit tersebut disalurkan kepada lebih dari tujuh sektor yakni transportasi (Rp 39,3 triliun), tenaga listrik (Rp 36,8 triliun), migas dan energi terbarukan (Rp 24,1 triliun), konstruksi (Rp 18,3 triliun), Jalan (Rp 10,6 triliun), perumahan rakyat dan fasilitas kota (Rp 9,5 triliun), telematika (Rp 17,5 triliun), dan infrastruktur lainnya (Rp 9,6 triliun).

Selain Bank Mandiri, beberapa bank juga aktif melangsungkan aksi korporasi dalam rangka memperkuat pendanaan dan struktur permodalan. PT Bank Mayapada Internasional Tbk misalnya juga berencana menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) di semester II 2018 ini.

Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi mengatakan lewat obligasi subordinasi ini pihaknya mengincar dana sebesar Rp 3 triliun. Bila sesuai dengan jadwal, penerbitan tersebut akan dilangsungkan pada bulan September 2018 mendatang.

"Untuk subdebt saat ini masih berproses di OJK pasar modal, jadi kuponnya belum bisa disampaikan, untuk subdebt ini akan masuk ke komponen tier II karena tenornya lebih dari 5 tahun," ujar, Rabu (8/8).
Selain obligasi, Bank Mayapada juga akan lebih dulu melangsungkan penawaran umum terbatas XI dengan cara hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue kepada pemegang saham, dengan target dana sebesar Rp 2 triliun. Berbeda dengan obligasi, rights issue ini akan masuk ke komponen tier I guna memperkuat sisi permodalan.

Menurut Haryono, mayoritas dana tersebeut akan digunakan untuk ekspansi yakni menopang target kredit dan laba agar tumbuh sebesar 15% pada akhir tahun. (Kontan)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved