Pileg 2019

13 Bacaleg Tak Penuhi Syarat, Ada 470 Bacaleg Bersaing di Solo

KPU Solo menetapkan 470 dari 483 bacaleg berstatus Daftar Calon Sementara (DCS). Artinya ada 13 bacaleg yang gagal nyaleg di Solo.

13 Bacaleg Tak Penuhi Syarat, Ada 470 Bacaleg Bersaing di Solo
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - KPU Solo menetapkan 470 dari 483 bacaleg berstatus Daftar Calon Sementara (DCS). Artinya ada 13 bacaleg yang gagal nyaleg di Solo.

Adapun 470 bacaleg berstatus DCS ini segera bersaing untuk mendapatkan 45 kursi DPRD Kota Solo pada pemilu 2019 mendatang.

Hal itu diungkapkan Ketua KPU Solo, Agus Sulistyo kepada Tribun Jateng, Senin (13/8/2018).

"Pengumuman DCS dilakukan 12-14 Agustus ini. Sedangkan untuk DCT (Daftar Calon Tetap) pada 20 September mendatang," urainya.

Menurutnya, ada berbagai alasan mengapa ada 13 bacaleg yang dinyatakan tak memenuhi syarat. Mayoritas, menurutnya karena tak dapat melengkapi persyaratan yang diperlukan.

"Memang kebanyakan karena tak bisa melengkapi persyaratan administratif hingga batas akhir waktu yang ditetapkan," urai dia.

Disinggung terkait apakah ada yang menggugat penetapan tersebut, Agus menjelaskan ada yang menggugat. Misalnya dilakukan Partai Berkarya.

"Untuk Partai Berkarya sudah selesai sidang adjudikasi," terang Agus.

Sebelumnya 13 Bacaleg dari total 483 orang yang mendaftarkan diri ke KPU Solo gagal nyaleg. Menurut Komisioner KPU Kota Solo Divisi Hukum, Nurul Sutarti, mereka gagal karena tak memenuhi syarat administrasi.

Adapun, ketiga belas bacaleg ini berasal dari enam parpol peserta pemilu yang sebelumnya dinyatakan lolos verifikasi.

"Ada parpol yang 100 persen bacalegnya lolos, ada yang tidak sepenuhnya. Dari 14 parpol yang tedaftar di KPU, enam parpol ada yang bacalegnya dinyatakan TMS," ujarnya.

Nurul merinci, enam parpol itu di antaranya Gerindra dan PBB masing-masing dua bacalegnya gagal nyaleg, Nasdem enam bacaleg, serta Perindo, PAN dan Hanura satu bacaleg.

Penyebab bacaleg tak lolos nyaleg, menurutnya mayoritas terganjal syarat ijasah, khususnya jenjang SMA sederajat.
Ia memaparkan tak sedikit bacaleg tak menyertakan ijasah SMA meski menyertakan ijasah Perguruan Tinggi.

"Aturannya ijasah SMA wajib disertakan mesti lulus S1 atau D3. Ada beberapa yang bilang ijasah SMA hilang," papar dia. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved