PKL Barito Tolak Penebangan Pohon oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang

Sampai sekarang kami tidak dapat tempat. Akan tetapi, kenapa shelter di Pasar Barito Baru yang dibangun jumlahnya hanya 80 saja

PKL Barito Tolak Penebangan Pohon oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang
tribunjateng/m zainal arifin
Petugas Dinas Perdagangan Kota Semarang bersitegang dengan beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Barito di Kelurahan Mlatiharjo, saat melakukan penebangan pohon dan pembongkaran bangunan terdampak normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Rabu (15/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Petugas Dinas Perdagangan Kota Semarang bersitegang dengan beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Barito di Kelurahan Mlatiharjo, saat melakukan penebangan pohon dan pembongkaran bangunan terdampak normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Rabu (15/8/2018).

Beberapa PKL dan warga penghuni bantaran sungai yang tetap bertahan mempertanyakan surat tugas atau perintah dilakukannya penebangan pohon-pohon yang berada di pinggir Jalan Barito. Mereka beralasan jika Dinas Perdagangan tidak berwenang melakukan penebangan itu.

"Setiap pembongkaran atau penebangan pohon harus disertai surat perintah atau tugas dari dinas terkait. Urusan pohon itu bukan kewenangan Dinas Perdagangan," ucap seorang PKL yang enggan menyebutkan namanya saat bersitegang dengan petugas.

Ada beberapa PKL Kelurahan Mlatiharjo yang enggan direlokasi dari bantaran Sungai BKT. Mereka tetap bertahan karena belum mendapat tempat di area relokasi. Akan tetapi, PKL di Kelurahan Bugangan dan lainnya justru beberapa sudah mendapat kios relokasi.

"Sampai sekarang kami tidak dapat tempat. Akan tetapi, kenapa shelter di Pasar Barito Baru yang dibangun jumlahnya hanya 80 saja," keluhnya.

Bersama beberapa PKL lain, ia meminta Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk tidak menebang pohon sembarangan. Apalagi, pohon tersebut merupakan pohon untuk penghijauan. Di samping itu, ia juga meminta agar Dinas menyiapkan shelter atau kios di pasar relokasi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, ada 20 pohon berukuran besar di jalan Barito di tiga kelurahan yang ditebang. Hal itu sudah dilakukan sejak seminggu lalu. Namun, beberapa kali upaya petugas mendapat perlawanan dari PKL.

"Penebangan pohon ini kami lakukan karena ada percepatan. Karena ada penolakan sehingga mundur sampai hari ini (Rabu--red). Mereka sudah kami beri peringatan agar segera menempati tempat relokasi yang sudah kami sediakan," kata Fajar.

Fajar menegaskan, dirinya akan melanjutkan relokasi PKL dan warga penghuni bantaran sungai sesuai tahapan. Ia beralasan adanya percepatan normalisasi Sungai BKT, membuatnya harus segera memindahkan seluruh penghuni bantaran.

"Kami akan rapatkan lagi dengan PKL di Kelurahan Bugangan, Rejosari, dan lainnya. Karena pada sekitar tanggal 20-25 Agustus, listrik akan kami matikan semua. Jadi mereka harus segera pindah," tegasnya.

Fajar menambahkan, pihaknya hanya punya waktu 10 hari untuk membersihkan bantaran Sungai BKT. Jika sampai batas waktu yang ditentukan masih ada PKL dan hunian yang masih bertahan, ia mengancam akan membongkar paksa dengan bantuan dari petugas Satpol PP.

"Itu karena mereka tidak ada itikad baik. Jadi ya terpaksa akan kami bongkar dengan bantuan Satpol PP," ujarnya.

Fajar memperkirakan masih ada sekitar 70 bangunan PKL di Kelurahan Mlatiharjo, Bugangan dan Rejosari. Sementara di Kelurahan Karangtempel masih ada 530 PKL dan hunian. Ditargetkan seluruh bangunan sudah bersih dari bantaran Sungai BKT pada akhir Agustus ini. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved