Suradi Angkat Legenda Kabupaten Demak, Membaurnya Kesenian Tradisonal Jawa di Festival Ceng Ho

Mayoritas sanggar seni telah memadukan kesenian tradisional dengan kesenian modern seperti penambahan alat musik

Suradi Angkat Legenda Kabupaten Demak, Membaurnya Kesenian Tradisonal Jawa di Festival Ceng Ho
Eka Yulianti Fajlin
Sanggar Seni Kademangan menampilkan Drama Tari Babad Tanah Jawi pada saat puncak Festival Cheng Ho, Minggu (12/8) 

TRIBUNJATENG.COM - Sekitar 40 penari tampak lincah menampilkan drama tari diiringi dengan musik tradisional Jawa di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Minggu (12/8) siang.

Mereka tampil dalam gelaran festival menyambut kedatangan Laksamana Cheng Ho ke-63.

Lenggak-lenggok para penari yang membawakan cerita Babad Alas Gelagah Wangi alias asal-usul Kabupaten Demak itupun sukses memukau ribuan wisatawan yang menyaksikan acara itu.

Mereka datang dari Kabupaten Demak, yaitu dari Sanggar Seni Kademangan.

Sang penggarap cerita Sanggar Seni Kademangan, Suradi mengatakan, di era milenial seperti saat ini sudah sangat jarang ditemukan kesenian tradisional murni.

Mayoritas sanggar seni telah memadukan kesenian tradisional dengan kesenian modern seperti penambahan alat musik modern maupun tarian modern.

Hal itu berbeda dengan Sanggar Seni Kademangan. Sanggar ini mengangkat kesenian tradisional tanpa ada tambahan alat musik dan tarian modern.

Sanggar ini mengusung kesenian barong dipadukan dengan drama tari tradisional.

"Kalau sanggar-sanggar lain biasanya ada keyboard atau drum sebagai tambahan, tapi kami murni memakai alat musik tradisional, dan tarinya juga tradisional," katanya, kepada Tribun Jateng.

Cerita yang diusung Sanggar Kademangan dalam setiap penampilannya pun selalu sama, yakni cerita legenda Kabupaten Demak, Babad Alas Jawi.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved